16 November 2009

Mencuci baju di rumah orang kaya


Entah mengapa, di perjalanan pulang dari mini market, saya teringat masa-masa liburan di Lumajang. Memori tentang mencuci baju di malam hari teringat kembali.

Waktu itu, saya sedang mencuci baju. Hal yang biasa bagi saya, sebab di kos-kosan saya di Surabaya tak ada mesin cuci maupun pembantu yang mencucikan. Posisi saya waktu itu sedang bertamu di rumah keluarga salah satu sahabat saya. Tante menyuruh saya mencuci dengan mesin cuci saja, tapi saya tak mau. Alasannya, karena saya tak ingin baju-baju saya rusak. Saya cukup punya banyak pengalaman buruk seputar mencuci baju. Akhirnya, saya pun tetap mencuci dengan tangan.


Selama mencuci, sepupu sahabat saya menemani saya. Dan hal yang membuat saya lucu adalah, sahabat saya pun kadangkala keluar masuk ruang mencuci itu. Saya tak tahu apa maksudnya. Kadang dia Cuma mondar-mandir atau bermain dengan anjing yang kebetulan kandangnya di tempat yang sama. Sempat terlintas di benak saya kalau dia sebenarnya sedang memperhatikan saya mencuci. Mungkin ini hal luar biasa atau baginya, atau mungkin ada alasan lain yang tidak saya ketahui. Tapi, rasanya lucu saja. Semenarik itukah melihat temannya mencuci?

hahahahaha… anak-anak orang kaya memang susah dimengerti. Mungkin karena saya bukan orang kaya, jadi tak tahu pola pikir mereka.

Jadi pengen ke Lumajang lagi…. Tempatnya menyenangkan, sejuk, dan kekeluargaan. Tempat yang bagus untuk membesarkan anak (apaan sih?). Hahahaha….


No comments: