Everything I See in This World. I see, i write, i draw, and i picture it

18 December 2015

SI PENGENDARA BESI YANG SOMBONG

18.12.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Bukan rahasia umum lagi mengenai perilaku para pengemudi kendaraan yang semena-mena di jalanan. Serobot sana, serobot sini,ngebut waktu hari becek,tidak mau berada di belakang kendaraan beroda dua, ngebut tidak tahu aturan.

Sering kali saya dibuat keki oleh perilaku para pengemudi mobil maupun sepeda motor. Saya berdoa, semoga kelak saya tidak menjadi seperti mereka saat memiliki kendaraan tersebut, amiiiin. Amin buat punya mobilnya. Hahaha...


Saya mungkin adalah orang yang paling sering terkena musibah atau minimal sakit hati akibat perbuatan para pengendara mobil dan sepeda motor. Saya ingin bercerita pengalaman pahit saya, yang mungkin dapat dijadikan pedoman untuk berefleksi, apakah Anda orang yang dimaksud, atau bukan.


Kejadian pertama, pernah saya alami ketika masih di bangku kuliah. Tapi saya tidak bawa-bawa bangku kuliah ke zebra cross. Karena pengalaman ini terjadi di zebra cross. Lampu hijau berganti dengan lampu merah. Waktunya untuk menyeberang. Baru juga kaki melangkan dua atau tiga langkah, bunyi klakson udah kayak gemuruh perang. Orang-orang terburu-buru untuk menyeberang, padahal waktu menyeberang masih lama. Hanya karena orang-orang tidak sabaran yang ingin cepat-cepat melajukan kendaraan sial mereka itu. Kadang-kadang saya bete, kadang-kadang saya kasihan. Kenapa? Lha iya, lampu hijau durasinya 15 detik. 15 DETIK!!! WHAT THE... sedangkan lampu merah 60 detik. Tidak seimbang, wajar orang jadi tak sabaran. Siapa sebenarnya yang membuat perhitungan tersebut? Tidak adil.


Berikutnya saat melaju di jalanan. Tidak semua orang perlu berkendara dengan kecepatan tinggi. Ada yang ngebut, ada yang santai. Saat kita lagi santai, yang mau ngebut ya biasa aja harusnya. Mau lewat ya silakan, tidak perlu lebay juga sampai harus ngegas motor kayak orang di arena offroad trus klaksonin orang supaya ngebut juga. Lu lewat aja nape? Asal yang bener aja nyalibnya, pake aturan. Harus lewat sebelah kanan, bukan kiri pengendara. Kalau celaka, saya ketawain dulu baru tolong. Salah sendiri.


Ada lagi cerita lain, pada suatu siang, saya sedang berkendara sepeda motor. Baru belok di tanjakan, masih berusaha mengatur posisi motor, si mobil tak sabaran di belakang sudah klakson-klakson dengan membabi buta. Dalam hati keki berat, begitu saya berhasil memposisikan kendaraan dan ada space buat dia lewat, langsung mobil gede itu ngebut di samping saya. Ih, norak banget!
Saat musim hujan, saya paling benci sama pengendara mobil. Kenapa? Karena banyak dari mereka yang suka ngebut-ngebutan di hari becek. Saya sering sekali terkena cipratan air bahkan SIRAMAN!! Manusia tidak tahu diuntung. Tidak tahu aturan dan tidak berempati.
Beberapa waktu lalu juga, saya hampir menabrak seorang pria yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi yang berkendara di malam hari tanpa lampu. Kalau lampu motor sial itu mati, tolong yah jangan ngebut-ngebut di jalan. Biasa aja! Lu bukan pengusaha yang kalau telat 5 menit, ruginya 5 trilyun!


Ada lagi yang lebih parah, dua hari atau tiga hari yang lalu. Saya baru keluar dari ATM dekat rumah. Begitu menaiki sepeda motor, saya melihat ada 3 orang gadis berboncengan di sepeda motor, membelok dengan kecepatan SANGAT TINGGI! Baru saja saya berpikir, wah ngebut sekali mereka, kalau jatuh bagaimana. Eh! Mereka benar-benar mengalami kecelakaan dengan cara yang menurut saya akrobatik. Motornya sampai menyala-nyala bergesekan dengan aspal, berputar 360⁰ sebanyak 3 kali di udara,lalu nyusruk di gundukan pasir dekat tugu mini yang baru dibangun di daerah itu. Wah, pemandangan yang luar biasa mengerikan buat saya. Karena itu adalah kali pertama saya melihat di depan mata saya langsung. Kejadian yang mengerikan! PLIS KAWAN, JANGAN NGEBUT! APALAGI DI BELOKAN.


Kalau yang tadi itu adalah pengalaman mengerikan, berikut ini adalah pengalaman aneh dan menyebalkan. Kecelakaan seseorang yang mengendari sepeda motor dalam keadaan mabuk. Hampir menyerempet saya, tetapi dia malah nyusruk di jurang mini. Untuk tidak jatuh sampai ke bawah. Karena kalau sampai terjadi, tamat riwayatnya, batu kali besar-besar semua di bawah itu. Kami mau menolong dia, semua orang berkumpul, tapi namanya orang mabuk ya gitu. Aneh. Lalu anehnya, mukanya sudah bengkak, kepala berdarah, badan luka-luka, mau ditolong malah sibuk sama handphone. Sibuk telepon pacarnya. Dari yang kami lihat, sepertinya dia diputusin cewe, lalu mabuk-mabukan, kecelakaan, lalu meminta belas kasihan cewenya. Hadeeeeh...masih jaman yah tidak mempedulikan hidup demi seorang cewe yang belum tentu juga secantik selena gomez atau sebaik mother Theresa.


Itu baru sedikit yah dari banyak pengalaman menyebalkan, aneh dan bikin keki yang saya alami dengan pengendara mobil atau motor. Kalian pasti punya cerita kalian sendiri juga. Intinya guys, ko stop su bagaya deng motor. Kek gila saja.

MEJA KERAMAT

18.12.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Meja itu, tidak ada yang spesial dari bentuknya ataupun apa yang tersaji di atasnya. Meja itu spesial karena kenangan dan warisan moralnya. Meja itu begitu magis hingga mampu memberikan kesan yang kuat pada setiap orang yang pernah merasakan kehangatannya. Kehangatan yang tercipta dari setiap tubuh yang mengelilinginya di waktu santap bersama, dahulu kala...

Dahulu kala, waktu yang keramat bagi setiap keluarga adalah waktu sarapan, makan siang, dan makan malam. Begitu teratur. Penuh nuansa kebersamaan yang tidak mampu ditolak. Mungkin bagi kebanyakan orang jaman sekarang, yang mengaku manusia moderen, hal ini terkesan kuno. Tidak sesuai jaman. Tetapi bagi saya, hal ini adalah salah satu hal terbaik yang perlu dimiliki oleh sebuah keluarga.


Saya masih mengingat jelas dan merindukan saat-saat di meja makan. Setiap pagi, sebelum kami berangkat ke sekolah dan Bapa ke kantor, aroma teh hangat semerbak di ruang makan. Mama akan memanggil kami untuk menyeruput teh hangat dan bubur (kalau ada) sebagai sarapan kami. Sederhana, tetapi aromanya masih terekam baik dan sekali-kali teringat setiapku melintasi ruang makan sepi ini.


Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, pukul 12.00 siang adalah waktu makan siang. Bagi keluarga kami, yang semuanya sekolah dan bekerja, pukul 14.00 adalah waktu makan siang. Saat semua telah pulang dari keriuhan kantor dan sekolah. Apalagi buat saya yang gemar berjalan kaki sepulang sekolah di bawah matahari Sumba yang begitu terik, meja makan itu mengitu mempesona.
Dari segi menu  tidak ada yang spesial. Makanan sehari-hari kami hanyalah nasi, sayur sawi yang kami sebut sayur putih dan ikan tembang goreng. Variasinya hanya di menu sayuran, cara memasaknya dan menu ikannya. Kadang-kadang saat ada yang berulang tahun, kami makan daging ayam atau daging babi. Tetapi saat saat duduk bersama di meja makan, berdoa makan bersama, lalu prosesi makannya itu sendiri yang sangat spesial dan mahal bagi saya, jika dibandingkan dengan situasi keluarga saat ini.


Mama akan memulai dengan menyodorkan tempat nasi pertama kali kepada Bapa sebagai kepala keluarga. Bukan berarti wanita dan anak-anak lebih rendah, tetapi sebagai wujud penghormatan kepada kepala keluarga. Setelah orang tua mengambil bagian, barulah anak-anak dipersilakan untuk mengambil bagian dan kami semua makan bersama-sama. Saya melihat ada pelajaran karakter dalam kegiatan keluarga seperti ini. Bagaimana kita belajar tertib waktu, mengucap syukur kepada Tuhan, menghormati yang lebih tua, belajar bersabar, dan tata krama. Ya, tata krama. Kami dilarang berbicara saat mengunyah makanan dan membunyikan piring dan sendok saat makan. Kami diajarkan untuk mengambil makanan secukupnya, jika kurang baru menambah agar tidak membuang-buang makanan. Istilah mama saya, “kamu jangan makan seperti tidak ada hari esok.” Artinya, jangan rakus. Lalu kami juga belajar berbagi. Bagaimana caranya agar makanan cukup dan sama rata bagi setiap anggota keluarga. Begitu pula saat makan malam yang biasanya kami lakukan pada pukul 20.00 WITA.



Jika saya melihat kondisi lingkungan jaman sekarang, dimana segalanya membutuhkan waktu, saya meragukan tradisi ini masih dilakukan oleh keluarga muda jaman sekarang. Bahkan di rumah saya pun tidak,sejak mama wafat. Tidak ada lagi orang tua bekerja yang menyempatkan waktu untuk makan bersama keluarga. Masing-masing makan sendiri-sendiri. Kalaupun bersama di rumah, makannya tidak di meja makan tetapi di depan televisi. Tidak ada lagi suasana meja makan yang khidmat dan hangat. Semua dengan caranya masing-masing. Saya merasa beruntung masih dapat menikmati kemewahan makan bersama keluarga. Ya, saya menyebutnya kemewahan. Karena waktu yang disediakan orang tua dan anak untuk duduk bersama di satu meja makan yang mungkin hanya butuh waktu 15-20 menit adalah hal yang langka dan mewah di jaman sekarang. Saya berharap, keluarga kecil saya kelak dapat merasakan kemewahan itu. Dan artinya, saya harus belajar masak!! CATAT ITU VAN!! Untuk segala sesuatu harus ada harga yang dibayar.

12 October 2015

Terbiasa

12.10.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Hal yang biasa, berubah berbeda pada masanya Terbiasa bersama sedari dini dikreasi sang khalik menjadi benih merah jambu Tak pernah disangka, tak pernah terbayangkan apalagi dicita-citakan Percikan itu menyusup bagai pencuri di pekat malam Tak disangka ia telah memasuki hati yang semula terkunci rapat! Waingapu 13-10-2015 Tengah Malam 00:53

26 June 2015

memotong jarak

26.6.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Pertemuan pertama, Dia terlihat menarik
Semakin banyak pertemuan, Dia semakin menarik
Perlahan-lahan batas itu menghilang
Dari sebuah toko kelontong mencapai teras rumahnya
Sakit masa lalu membuatnya canggung dan ragu
Memperhatikan dari jauh
Memberikan pertolongan kecil
Serpihan cintaku yang tertahan
Kau tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan
Pilihlah, menghirup dan terbuai atau menyapu bersih serpihan itu

Treat People Well

26.6.15 Posted by Vany Kadiwanu 2 comments
Treat people with respect, treat them well without seeing what they do for living or which social level they come from~ VK

Hari ini saya menghadiri suatu acara perpisahan dimana ada pembacaan peringkat, prestasi yg dicapai oleh anak-anak.

Seperti biasa, ada penghargaan yang disiapkan oleh pihak penyelenggara yang diserahkan langsung kepada orangtua.

Satu per satu orang tua maju dengan rasa bangga. Tidak menyangka anaknya meraih prestasi.

Saya melihat tidak semua orangtua hadir. Ada pula yang diwakili mungkin oleh salah satu karyawan yang bekerja pada orangtua anak.

Perwakilan ini berbeda suku dengan orangtua anak itu. Saat nama anak tersebut disebut dan perwakilan harus maju, ada hal yang saya rasa tidak pantas dilakukan oleh beberapa orang pihak penyelenggara. Mereka tertawa melihat perwakilan itu maju.

I was like, I want to cry. Why you treat people like that? He is human too. Im typing this with holding my tears so it wont fall.

Saat bapak itu maju dengan memaksakan senyum, saya merasa sedih. Sumpah pengen nangis.saya membayangkan bagaimana jika orang itu adalah ayah saya, dan tidak diperlakukan dengan baik?

Tiba saat makan bersama, saya melihat bapak tadi tidak berbaur. Ia memilih keluar lewat pintu belakang. Didorong perasaan bersalah saya sebagai salah satu pihak penyelenggara, saya menyapa bapak itu dan mempersilakannya untuk turut makan bersama. Ia pun makan naun tetap tidak berbaur. Sedih. Please treat people with respect, because you are not the best people in the world! Bahasa kasarnya, emang situ oke?

23 June 2015

This is Not The End

23.6.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Percikan itu!

Percikan itu menggerakkan kaki yang telah berlari jauh

memutar arah dan kembali ke tempat semula

Sempat Dia berpikir tuk pergi saja

Tetapi hatinya memang tak pernah benar-benar melupakan

Dia, mendekap rindu dalam diam

Memercik rasa lewat berbait puisi

Melihat mayanya membuat dia memerah

Berdialog dengan virtualnya membuat Dia merona merah jambu

Mungkin itulah mengapa dia tak pernah benar-benar pergi

Seorang sahabat dia bertanya,

“Tak lelah kau menyembunyikan rona?”

“Tak sedih kau kau menempuh jarak?”

Pertanyaan yang dia pun tak tahu jawabnya

Apakah rona itu?

Apakah jarak itu?

Selama dia masih berada di sampingnya,

Menjadi bayang-bayang pun suatu kemewahan

This is not the end.

21 June 2015

Still waiting, praying, confusing, hoping

21.6.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Writing is my only escape from confusion, misery, never ending question, and everything. Today, I will write about the never ending question I have in mind.

What is love to you?

For me, now, Love is :

Waiting,

Praying,

Confusing,

Hoping.

Have you ever love someone until you can not stop thinking of him even you tried?

Every little details, every words, everything are walking in and out of you mind are all about Him.

Buatku cinta adalah penantian. Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Berusaha menguji rasa dengan waktu. Apakah benar cinta atau obsesi belaka?

Buatku cinta adalah doa. Mendoakan dia dalam setiap waktu doaku. Bukan untuk memintanya pada Tuhan, tetapi meminta Tuhan menunjukkan, apakah dia atau bukan. Jika dia, kumohon petunjuknya. Jika bukan, kumohon rasa ini diambilNya.

Buatku cinta membingungkan. Semakin ingin dilupakan, ia semakin teringat. Semakin ingin kuhindari, ia semakin merongrong. Semakin aku putus asa, perlahan-lahan harapan itu muncul. Semakin aku percaya akan harapan itu, ia pun tampak seperti tak ada.

Buatku cinta itu harapan. Berharap ia kan datang suatu saat nanti. Berharap Tuhan menuntun jalanku padanya. Berharap suatu hari kan bersama.

Almost 3 years, I’m waiting, praying, confusing, and hoping that we, someday, will find our way to each other.

Love is wasting time

21.6.15 Posted by Vany Kadiwanu 1 comment
Kata Peekay (mabuk), cinta itu buang-buang waktu.

Melihatnya berbicara, memperhatikannya, menyukainya, semuanya hanya buang-buang waktu. Tetapi kita mencintai hanya sekali seumur hidup. Jadi, tidak apa-apa buang-buang waktu untuk itu. Rasanya saya mau buang-buang waktu untuk itu.

Itu kata Peekay loh. Sedih tapi jalan ceritanya. Wanita yang dicintai Peekay sudah punya seseorang yang ia cintai sejak lama. Peekay yang baru masuk ke dalam hidup si wanita dan mencintainya karena kebersamaan setiap hari harus patah hati. Ia memberikan jalan bagi kedua orang itu untuk bisa bersama. Sedih loh. Tapi saya belajar dari film ini. Bahwa ketika kita mencintai seseorang, tidak perlu terlalu terobsesi atau mengejar orang itu mati-matian. Apalagi sebagai perempuan. Biasa saja. Kita boleh senang, sedih, mengekspresikan perasaan kita, tetapi bukan di depannya. Jikalau dia memang punya perasaan sama kita, dia yang akan datang mendekat. Mengapa Vany kolot banget? Yah… kita kan harus melihat kesungguhannya. Karena pria pada dasarnya memiliki naluri memburu. Kalau kita datang dan menyodorkan diri begitu saja, pastilah kita tidak bisa menilai, apakah ia punya perasaan yang sama atau hanya mengambil kesempatan. Atau yang lebih menyedihkannya, bisa aja kamu dicuekin.

Benar-benar menyebalkan urusan cinta-cintaan ini. Buang-buang waktu, tidak jelas, dan menyebalkan.