Everything I See in This World. I see, i write, i draw, and i picture it

11 December 2014

Kata Orang

11.12.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Kata orang, money can’t buy love.

Well, not directly. Menurut saya, secara tidak langsung, uang sebenarnya dapat ‘membeli’ cinta. Wooo…wooo..sebelum protes, coba baca dulu lanjutannya.
Kamu memang tidak  bisa seperti di pasar, bertransaksi dengan uang dan membeli cinta dengan mudah. It’s not love, it’s lust. Hehehe
Tetapi yang saya maksud dengan uang bisa ‘membeli’ cinta adalah:

ü  Untuk tampil terawat kamu butuh uang buat beli odol, baju bersih, sabun, lotion, bedak, pelembab wajah, shampoo, conditioner, pembersih wajah, pelembab bibir, gel rambut, vitamin rambut, dll. Kalau memang uang tidak dapat ‘membeli’ cinta, I dare you to fall in love with someone yang ga pernah mandi, gosok gigi, sampoan, atau merawat diri bahkan pakai baju robek-robek penuh noda.

ü  Kenalan dengan cowo atau cewe, kamu tertarik, bokis banget kalau kamu tidak berusaha mencari tahu apa yang dia lakukan untuk hidup. Saya tidak menyalahkan kalian atau menuduh kalian matre. Tidak! Saya hanya mau menekankan satu poin bahwa sudah sewajarnya kita mengetahui hal itu. Apakah dia tau tujuan hidupnya? Apakah dia sedang mengusahakan sesuatu yang ia yakini akan menjadi masa depannya? Ataukan dia seorang pemalas yang tidak melakukan apa-apa dan masih bergantung pada orang tua? Tidak sedikit juga saya menemukan fenomena, dimana seseorang jatuh cinta pada orang yang ga ngapa-ngapain, tapi karena ortunya kaya, si pacarnya santai-santai aja.

Ada lagi orang yang mengatakan, “Penampilan luar ga penting, yang penting hatinya.” Setuju sih, dan saya punya pengalaman pahit soal hal satu ini.

ü  Saya pernah ya, punya pacar yang katanya sih, uda 4 tahun suka sama saya (sebelum jadian). Nah ternyata pada suatu waktu, saya harus pergi ke suatu tempat dimana saya tidak bisa berpakaian seperti biasanya. Harus sesederhana mungkin, dan sandal gunung itu uda jadi sandal paling nyaman dan wajib dipakai kemana-mana. Well, doi protes karena saya tiba-tiba jadi tidak menarik di matanya. Dandanan kampung, plus doi marah berat kalo liat saya pakai sandal gunung. Helooooowww… Lu gila apa? Masa tinggal di pesisir pantai saya harus pakai high heels or flat shoes?? Lu mau abaikan pasir pantai begitu aja? Lu mau abaikan bukit terjal begitu aja? Bete banget kan? Masa saya harus tampil mentereng di tengah kampung. Aneh!

Beberapa pengalaman percintaan (ceileeeh padahal 5 jari aja ga nyampe jumlah pacarannya) membuat saya semakin bijak dalam memilih pasangan.
Tidak ada lagi menyukai karena tampan, atau hal-hal remeh lainnya.
Kriteria pasangan saya, dia harus Cinta Tuhan, tau apa yang dia mau, berani mengambil risiko, pantang menyerah, punya jiwa entrepreneur, berjiwa pemimpin dan peduli lingkungan social disekitarnya. 

08 October 2014

Itu hanya . . .

8.10.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Banyak hal luar biasa hanya dapat dinikmati apabila hal itu stays as something rare or amazing or something that can not easily get by us. When it's everywhere, then it's not amazing stuff anymore.

Contoh:
When you back at 90s or back then, had the album of the favorite band or musician is amazing. It is because not anybody could had one.
Now, when u show of about a mp3 or album, people dont care. Why? Because it's everywhere and easily to get.

Contoh lain,
Melihat gerhana matahari atau gerhana bulan pada masa sebelum handphone ditemukan, bahkan sebelum kamera menjadi benda yg murah, adalah hal yg luar biasa.
Sekarang,
I even dont care about it. I cant see it live, I just need to click on my facebook or internet then all my fb home is about that. Full of picts from different angle.

Masih banyak hal lain lagi yang bisa jadi contoh... dan semua hal seperti ini membuat saya berpikir: itu hanya mp3, itu hanya gerhana bulan, itu hanya ... etc. Terlalu biasa.

13 July 2014

Focus Itu Penting

13.7.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Gambar : Google

Ada kalimat yang mengatakan, "Jika kau mengejar dua kelinci pada saat yang sama, maka keduanya tidak akan tertangkap". Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan pentingnya menentukan fokus dalam hidup.

Kita tidak bisa menjadi luar biasa dalam satu bidang apabila kita tidak menentukan fokus. Seperti petinju yang memukul sembarangan atau atlit lari yang berlari tanpa tujuan yang jelas.

2012, adalah waktu dimana saya mulai memikirkan betapa pentingnya menentukan fokus. Saya secara pribadi memahami banyak hal, cepat belajar banyak hal, tetapi tidak ada yang benar-benar menjadi fokus sehingga belum ada hal luar biasa dan terlalu bermakna untuk dihayati dan dikejar. Saya berdoa dan meminta petunjuk pada Tuhan. Dia menjawab lewat berbagai hal yang terjadi di sekitar saya. 2012, saya memutuskan untuk fokus pada dunia pendidikan.

Selama satu tahun saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, di salah satu sekolah internasional terbaik milik Singapura. Saya belajar banyak hal mengenai pendidikan. Tujuan saya adalah memiliki sekolah sendiri atau menjadi pakar pendidikan. Mengapa? Pendidikan itu menarik. Mulai dari manajemen sekolah, pembuatan kurikulum, hingga saat action di kelas dan menghadapi dinamika kelas dan perkembangan setiap anak. Tidak ada habisnya dipelajari dan selalu ada hal baru yang ditemukan.

15 Desember 2013, saya memutuskan pulang ke Sumba. Fokus saya saat pulang adalah membangun kembali jaringan, membuka kembali taman baca, dan mencari peluang untuk masuk ke dalam dunia pendidikan di Sumba. Mengapa Sumba? Karena saya cinta sumba. Saya ingin berkontribusi untuk daerah saya sendiri. Naif? Tidak! Ini keputusan hidup.
Saya coba fokus pada niat saya itu, memperkatakannya, melakukan bagian saya semaksimal mungkin dan terus berdoa meminta petunjuk dari Tuhan. 

Kesungguhan dan berkat Tuhan menuntun pada keyakinan hati bahwa apa yang saya lakukan sudah benar. Dimulai dari Taman Baca Namu Angu yang semakin berkembang meski mulai ditinggalkan oleh teman-teman yang awalnya membangun ini bersama saya. Tapi Tuhan membuka jalan yang lain. Saat ini, sudah ada 5 Taman Baca di Sumba dan kami semua berteman baik. Bagi saya, inilah pekerjaan Tuhan. TB Namu Angu menjadi permercik yang membangkitkan semangat dan keberanian anak Sumba bahwa mereka pun bisa membuka taman baca atau rumah belajar. Kami saling mendukung dan saling membantu. Ke-5 taman baca tersebut, antara lain:
1. Rumah Belajar Kampung Raja di Prailiu
2. Rumah Pintar Popa di Popa
3. Rumah Belajar Sola Gratia di Wangga
4. Taman Baca Kawangu di Kawangu
5. Tamanb Baca Kampung Barat di KM2

Selain berkat Tuhan dalam penyebaran taman baca di Sumba, Tuhan juga memberikan saya kesempatan untuk masuk ke dunia pendidikan lewat SD Kasih Agape. Mulai tahun ajaran baru 2014-2015 saya akan mulai mengajar di sana. Ini adalah kesempatan untuk mempelajari berbagai hal terkait pendidikan dan pengelolaan sekolah di Sumba, Kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Semoga Tuhan memeluk mimpi saya dan mengabulkan cita-cita saya untuk memiliki sekolah sendiri.

Oh ya, mengejar mimpi harus juga disertai kesadaran penuh bahwa link atau jaringan serta uang itu sangat penting. Untuk jaringan, itu sudah mulai terbangun dan baik. Semua jaringan memungkinkan saya untuk meraih mimpi. Bahkan beberapa minggu lalu ada yang menyampaikan bahwa mimpi saya bisa terlaksana lewat mereka. Tapi, saya tetap harus memiliki pemahaman yang dalam mengenai pengelolaan sekolah. Tidak mau asal bangun sekolah. Lalu saat ini, saya dan seorang teman juga mulai membangun sebuah usaha dengan melihat peluang Sumba yang menuju daerah wisata. Semoga usaha kami berhasil dan dapat menunjang pencapaian mimpi masing-masing. Semangaaaaat!!! FOKUS dan tetapkan tujuan

02 March 2014

PEE MAK Movie Review

2.3.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Pee Mak
Genre : Horror Comedy



Jika Hollywood punya Twilight, Thailand punya Pee Mak. Apa hubungannya?


Pee Mak merupakan sebuah komedi horor yang menceritakan kisah pilu percintaan yang terhalang oleh ajal. Dikisahkan seorang pria yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk berperang membela negaranya. Ketika sedang berada di medan pertempuran, istrinya meninggal.

Di medan perang, Mark berkenalan dengan 4 orang pemuda yang akhirnya menjadi sahabat-sahabatnya. Karena namanya yang susah dilafalkan, maka mereka memanggilnya dengan sebutan Mak. Bersama para sahabatnya itu, Mark pulang ke kampung halamannya untuk betemu dengan istrinya yang cantik jelita.

Perahu tiba, sampailah mereka di rumah Mark. Ia memperkenalkan istrinya. Tak diragukan lagi, para sahabatnya pun terkesima dengan kecantikan istri Mark. Apakah ada yang salah dari urutan cerita yang saya sampaikan? Bagaimana mungkin wanita yang telah meninggal masih ada di rumah itu? Ternyata, wanita itu adalah hantu yang terus menunggu kepulangan suaminya. Cintanya tidak menginjinkannya untuk pergi dengan tenang, namun terus berada di dunia untuk bertemu lagi dengan suaminya.

Pengalaman menyeramkan sekaligus konyol terus mulai dialami oleh Mark dan sahabat-sahabatnya, hingga mereka sadar bahwa ternyata mereka tinggal bersama hantu. Dalam hal film horror, Thailand tidak perlu diragukan lagi. Tetapi menggabungkannya dengan komedi? Apakah masih bisa terasa efek kengeriannya? Bisa kukatakan, hanya mereka yang ahli dalam hal ini. Film ini meski dibalut dengan unsur komedi namun tetap  membuat bulu kuduk merinding. Di suatu detik kita tertawa terpingkal-pingkal dan detik, berikutnya kita dibuat tekaget-kaget. Tidak hanya itu, bumbu romantika pun membuat film ini semakin lengkap. Mark haris memilih, hidup pada kodratnya, yang hidup dan yang mati tak hiup berdampingan atau sebaliknya.

Seperti biasa, saya tidak akan menceritakan secara detail dalam tulisan ini, karena akan mengurangi greget saat menontonnya nanti. Film ini sangat kurekomendasikan bagi kalian yang ingin mencari film dengan nuansa berbeda. Selamat menonton.

Kritis

2.3.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Kritis, kira-kira itulah perasaan saya. Tapi sayangnya, entah ini kelebihan atau kekurangan tapi saat saya merasakan kesulitan menghadapi suatu kondisi, hal itu tidak dapat saya ungkapkan. Selalu bisa bercerita, tetapi tidak semuanya. Hanya permukaan es yang mencuat di samudra. Gunung esnya masih lebih besar di bawah, tidak kelihatan. 


Satu hal yang ingin sekali saya rubah dalam menghadapi masalah adalah kebiasaan mengurung diri dalam 'gua'. Rasanya jadi seperti melawan diri sendiri. Saat orang-orang terkasih pergi Susah sekali buat saya untuk menangisi kepergian mereka, termasuk saat mama saya meninggal. Bukan karena tidak sedih. Saya SANGAT SEDIH. Tetapi entah mengapa air mata tidak mau turun. Mungkin karena ada perasaan ingin melindungi. Air mata tidak memperbaiki keadaan, air mata hanya membuat suasana semakin sulit. Mungkin itulah yang membuat saya jadi susah mengekspresikan kesedihan dengan wajah. Saat sesuatu yang pelik datang, wajah ini otomatis berubah menjadi keras dan kosong.

Saat ini, saya menemukan hal baru yang lebih pelik lagi. Tetapi saya percaya Tuhan akan memampukan. Hanya saja, sudah dua minggu ini saya jauh dari Tuhan. Entah mengapa. Tidak ada gereja yang cocok dengan kebutuhan saya, tidak ada kakak rohani, rasanya kering sekali. Semakin diperburuk dengan saya yang mulai malas merenungkan firmanNya plus keadaan di rumah yang cukup rumit. Rumitnya seperti apa tentu tidak bisa saya ceritakan. Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing. 

17 January 2014

Journey to Kalamba Waterfall

17.1.14 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Kalamba, ini bukan pertama kalinya saya pergi ke desa tersebut. Tetapi ini pertama kalinya saya pergi dengan tujuan untuk jalan-jalan dan melihat air terjunnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu bahwa di Desa Kalamba terdapat sebuah air terjun yang eksotis.



Sebelum tiba di desa Kalamba, saya bersiap-siap di rumah. Menunggu teman-teman yang rencananya akan bersama-sama menuju ke sana. Datanglah Epin, pacarnya yang bernama Jackleen, dan seorang pemuda asal Solo bernama Supomo. Peserta jalan-jalan berikutnya adalah adik saya Yos dan teman-temannya. Total ada 9 orang yang berjalan menuju Kalamba menggunakan motor.

Perjalanan kami sebenarnya jauh, sekitar dua jam perjalanan. Tetapi tidak begitu terasa karena sepanjang perjalanan, saya dan teman yang membonceng mengobrol ini itu. Kami juga sempat berhenti di Pasar Mondu, untuk menikmati kelapa muda. Diantara bau kotoran kambing dan ditonton oleh para penjual serta seekor sapi yang sedang nongkrong di situ, kami menikmati kelapa muda tersebut.

Perjalanan kami lanjutkan. Setelah melewati sebuah jembatan besi, kami pun berbelok ke arah kiri. Jalan yang kami lalui berbatu karang, belum diaspal, berlubang-lubang. Sering kali motor berbelok sendiri karena batu-batu lepas di jalan sangat banyak. Namun, pemandangan di kanan kiri kami sangat indah. Hamparan padang sabana nan hijau berbingkai gunung-gunung hijau membuat kami tenang. Sempat kuberpikir, bahwa tempat ini cocok untuk syuting “Lord of The Rings”.

Beberapa kali kami serombongan berhenti untuk mengambil foto. Kami ingin mengabadikan pemandangan ini. Mumpung lagi hijau. Karena memasuki bulan-bulan kemarau nanti, pemandangannya lain lagi. Semua akan terlihat kuning keemasan.

Kami pun sampai di Desa Kalamba, desa di tengah kuali. Begitulah sebutannya, karena letak desa itu tepat di tengah-tengah gunung-gunung sehingga seperti berada ditengah kuali.
Kami memarkir sepeda motor, melepas celana panjang dan hanya mengenakan celana pendek. Lalu kami mulai berjalan menyusuri sungai menuju air terjun.

Pikirku, dengan berjalan kami akan melihat air terjun di depan mata, ternyata kami berada di atas air terjun tersebut. Kami harus menuruni batu yang curam dan berlumut di samping air terjun kembar tersebut untuk turun ke bawah. Kakiku gemetar, takut terpeleset dan jatuh lalu diterima oleh bebatuan besar di bawah sana. Badanku sekarang tak seringan dulu, dan alam sudah lama tak kujamah. Lama merantau di tanah Jawa membuat fisik dan mentalku selembek tahu.

Beberapa saat mengambil napas, lalu perlahan-lahan dengan arahan adikku, kuturunkan kaki, dan berlagak layaknya pemanjat tebing ulung yang sedang menuruni tebing dengan tali pengaman. Padahal tak ada seutas tali pun mengikatku. Berhasil! Sampai di bawah, saya langsung nyebur! Tapi sayangnya kami semua tak dapat berenang ke tengah karena takut terbawa arus ke air terjun berikutnya.

Pemandangan yang bisa dinikmati di lokasi air terjun ini adalah struktur dari air terjun itu sendiri. Berundak-undak, dengan air hijau tosca. Bagian yang palis deras adalah lapisan pertama. Lapisan ke empat lebih tenang namun menghayutkan. Jika tidak hati-hati maka akan terseret juga ke air terjun di bawahnya lagi.

Sambil menikmati makanan ringan dan tingkah adik saya dan teman-temannya dari atas susunan batu, kami melihat salah seorang teman adik saya seperti kebingungan mau menyeberang dari sebelah mana untuk kembali ke tempat kami duduk. Setelah ia cerita barulah kami paham. Ternyata, tanpa kami sadari ia telah terseret air. Kami baru tahu setelah ia menceritakan kepada kami. Untungnya dia tidak apa-apa. Lucunya adalah, dia jadi trauma menyeberang air terjun itu. Kami menunggu dia dan memberi semangat sambil makan biskuit. Saksikan videonya di bawah ini.

Setelah ia berhasil menyeberang, kami pun bersepakat untuk pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih mudah karena jalanannya menurun. Tetapi, malang tak dapat ditolak, saya dan teman saya terjatuh dari sepeda motor dan menyebabkan motor milik sepupu saya tergores di bagian kanannya. HUAAAAAA... mati saya! Sudah boleh minjem, diciderai pula. Segitu dulu ya, nantikan kisa petualangan kami selanjutnya.