Everything I See in This World. I see, i write, i draw, and i picture it

22 April 2016

mungkin

22.4.16 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Kadang saya berpikir, secara narsis tentunya, bahwa Tuhan memberikan saya balasan atas apa pun yang telah saya lakukan (meski itu adalah kewajiban kita sebagai manusia) bukan berupa harta benda tetapi seseorang yang sangat saya syukuri. 
Mendapatkan pasangan yang seperti pasangan saya saat ini bagi saya adalah berkat.
Dia orang yang bisa mengimbangi saya secara karakter. 
Meski usia kami sama, tapi sebagai pria, dia lebih dewasa dari saya.
Saya merasa sangat dikasihi, dimengerti.
Kami sudah bersahabat sangat lama.
Menjalani hubungan yang lebih dari sekedar teman dengannya bagi saya adalah suatu kesenangan yang sangat saya syukuri.
Memang manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan,
Saya pikir saya bisa mengontrol masa depan saya seideal yang menurut saya paling bagus.
Ternyata, rencana Tuhan sangat berbeda dan lebih baik dari rencana saya.

Saya bingung untuk menuliskan situasi dan kondisi saat ini, perasaan saya saat ini, tetapi yang pasti, dia adalah orang yang sangat saya syukuri keberadaannya dalam hidup saya, selain keluarga inti saya.


"Lucky" (feat. Colbie Caillat)

22.4.16 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Do you hear me, I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy, I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you, I promise you, I will

Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair
Though the breezes through the trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

Lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

"Kiss Me"

22.4.16 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Kiss me out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You wear those shoes and I will wear that dress.

[Chorus:]
Oh, kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band and make the fireflies dance
Silver moon's sparkling
So kiss me

Kiss me down by the broken tree house
Swing me upon its hanging tire
Bring, bring, bring your flowered hat
We'll take the trail marked on your father's map

[Chorus (repeat)]

13 March 2016

Kembali Logis

13.3.16 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Bukan Vany namanya kalau mempedulikan kemana seseorang pergi dan mengapa orang itu tidak mengontak saya.
Tapi sejak ada orang baru yang sebenarnya bukan orang baru dalam hidup saya, semuanya berubah.
Saya jadi KEPO.
Haisss...
Setiap kali penyakit KEPO itu muncul, yang saya lakukan adalah berpikir secara logis. Pada akhirnya saya akan menertawakan diri sendiri karena hal yang membuat saya penasaran, sebenarnya tak penting-penting amat.
Contoh:
Whatsapp terakhir sama pacar jam 1 siang.
Sepanjang hari gelisah nunggu dia kontak, tapi tidak kontak-kontak.
Saya langsung berpikir, apa-apaan ini? Kenapa pula saya harus berkontak dengan dia sepanjang hari? Dia kan pasti punya hal-hal lain yang harus dikerjakan, atau sekedar me time.
Saya pun menengok jam, ternyata baru dua jam berlalu sejak whatsapp terakhir.
Yaelaaah Van!! 
Tapi serius, dua jam rasanya lama sekali. It's like I've been waiting forever.
Kembali logis Van!!!

FIRASAT

13.3.16 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Saya sedang menonton drama korea di kamar, adik saya yang pulang liburan kuliah sedang tertidur lelap. Tiba-tiba, Bapa masuk ke kamar dan berdiri canggung.
“kenapa Bapa?”
“tidak, Bapa hanya lihat Jesi,” itulah nama adik saya.
“Kau urus sama Jesi,” saya heran mengapa tiba-tiba Bapa bicara seperti itu. Kesannya, serius sekali. Saya takut dan sedih.
“Kenapa memangnya dia? Dia Cuma mengantuk karena belum tidur dari kemarin.”
“Dia terlalu kurus.”
“Dia dengan Viny memang kurus dari dulu. Biar saja.”
“Ia dia kurus, tapi tidak sekurus ini.”
Mendengar itu mata saya berat dan leher saya tercekat. Saya merasa sedih. Untuk seseorang yang sudah ditinggalkan salah satu orangtua karena maut, pasti selalu ada rasa takut datangnya firasat kehilangan lagi. Semoga saja ini Cuma perasaan saya saja.

18 December 2015

SI PENGENDARA BESI YANG SOMBONG

18.12.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Bukan rahasia umum lagi mengenai perilaku para pengemudi kendaraan yang semena-mena di jalanan. Serobot sana, serobot sini,ngebut waktu hari becek,tidak mau berada di belakang kendaraan beroda dua, ngebut tidak tahu aturan.

Sering kali saya dibuat keki oleh perilaku para pengemudi mobil maupun sepeda motor. Saya berdoa, semoga kelak saya tidak menjadi seperti mereka saat memiliki kendaraan tersebut, amiiiin. Amin buat punya mobilnya. Hahaha...


Saya mungkin adalah orang yang paling sering terkena musibah atau minimal sakit hati akibat perbuatan para pengendara mobil dan sepeda motor. Saya ingin bercerita pengalaman pahit saya, yang mungkin dapat dijadikan pedoman untuk berefleksi, apakah Anda orang yang dimaksud, atau bukan.


Kejadian pertama, pernah saya alami ketika masih di bangku kuliah. Tapi saya tidak bawa-bawa bangku kuliah ke zebra cross. Karena pengalaman ini terjadi di zebra cross. Lampu hijau berganti dengan lampu merah. Waktunya untuk menyeberang. Baru juga kaki melangkan dua atau tiga langkah, bunyi klakson udah kayak gemuruh perang. Orang-orang terburu-buru untuk menyeberang, padahal waktu menyeberang masih lama. Hanya karena orang-orang tidak sabaran yang ingin cepat-cepat melajukan kendaraan sial mereka itu. Kadang-kadang saya bete, kadang-kadang saya kasihan. Kenapa? Lha iya, lampu hijau durasinya 15 detik. 15 DETIK!!! WHAT THE... sedangkan lampu merah 60 detik. Tidak seimbang, wajar orang jadi tak sabaran. Siapa sebenarnya yang membuat perhitungan tersebut? Tidak adil.


Berikutnya saat melaju di jalanan. Tidak semua orang perlu berkendara dengan kecepatan tinggi. Ada yang ngebut, ada yang santai. Saat kita lagi santai, yang mau ngebut ya biasa aja harusnya. Mau lewat ya silakan, tidak perlu lebay juga sampai harus ngegas motor kayak orang di arena offroad trus klaksonin orang supaya ngebut juga. Lu lewat aja nape? Asal yang bener aja nyalibnya, pake aturan. Harus lewat sebelah kanan, bukan kiri pengendara. Kalau celaka, saya ketawain dulu baru tolong. Salah sendiri.


Ada lagi cerita lain, pada suatu siang, saya sedang berkendara sepeda motor. Baru belok di tanjakan, masih berusaha mengatur posisi motor, si mobil tak sabaran di belakang sudah klakson-klakson dengan membabi buta. Dalam hati keki berat, begitu saya berhasil memposisikan kendaraan dan ada space buat dia lewat, langsung mobil gede itu ngebut di samping saya. Ih, norak banget!
Saat musim hujan, saya paling benci sama pengendara mobil. Kenapa? Karena banyak dari mereka yang suka ngebut-ngebutan di hari becek. Saya sering sekali terkena cipratan air bahkan SIRAMAN!! Manusia tidak tahu diuntung. Tidak tahu aturan dan tidak berempati.
Beberapa waktu lalu juga, saya hampir menabrak seorang pria yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi yang berkendara di malam hari tanpa lampu. Kalau lampu motor sial itu mati, tolong yah jangan ngebut-ngebut di jalan. Biasa aja! Lu bukan pengusaha yang kalau telat 5 menit, ruginya 5 trilyun!


Ada lagi yang lebih parah, dua hari atau tiga hari yang lalu. Saya baru keluar dari ATM dekat rumah. Begitu menaiki sepeda motor, saya melihat ada 3 orang gadis berboncengan di sepeda motor, membelok dengan kecepatan SANGAT TINGGI! Baru saja saya berpikir, wah ngebut sekali mereka, kalau jatuh bagaimana. Eh! Mereka benar-benar mengalami kecelakaan dengan cara yang menurut saya akrobatik. Motornya sampai menyala-nyala bergesekan dengan aspal, berputar 360⁰ sebanyak 3 kali di udara,lalu nyusruk di gundukan pasir dekat tugu mini yang baru dibangun di daerah itu. Wah, pemandangan yang luar biasa mengerikan buat saya. Karena itu adalah kali pertama saya melihat di depan mata saya langsung. Kejadian yang mengerikan! PLIS KAWAN, JANGAN NGEBUT! APALAGI DI BELOKAN.


Kalau yang tadi itu adalah pengalaman mengerikan, berikut ini adalah pengalaman aneh dan menyebalkan. Kecelakaan seseorang yang mengendari sepeda motor dalam keadaan mabuk. Hampir menyerempet saya, tetapi dia malah nyusruk di jurang mini. Untuk tidak jatuh sampai ke bawah. Karena kalau sampai terjadi, tamat riwayatnya, batu kali besar-besar semua di bawah itu. Kami mau menolong dia, semua orang berkumpul, tapi namanya orang mabuk ya gitu. Aneh. Lalu anehnya, mukanya sudah bengkak, kepala berdarah, badan luka-luka, mau ditolong malah sibuk sama handphone. Sibuk telepon pacarnya. Dari yang kami lihat, sepertinya dia diputusin cewe, lalu mabuk-mabukan, kecelakaan, lalu meminta belas kasihan cewenya. Hadeeeeh...masih jaman yah tidak mempedulikan hidup demi seorang cewe yang belum tentu juga secantik selena gomez atau sebaik mother Theresa.


Itu baru sedikit yah dari banyak pengalaman menyebalkan, aneh dan bikin keki yang saya alami dengan pengendara mobil atau motor. Kalian pasti punya cerita kalian sendiri juga. Intinya guys, ko stop su bagaya deng motor. Kek gila saja.

MEJA KERAMAT

18.12.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Meja itu, tidak ada yang spesial dari bentuknya ataupun apa yang tersaji di atasnya. Meja itu spesial karena kenangan dan warisan moralnya. Meja itu begitu magis hingga mampu memberikan kesan yang kuat pada setiap orang yang pernah merasakan kehangatannya. Kehangatan yang tercipta dari setiap tubuh yang mengelilinginya di waktu santap bersama, dahulu kala...

Dahulu kala, waktu yang keramat bagi setiap keluarga adalah waktu sarapan, makan siang, dan makan malam. Begitu teratur. Penuh nuansa kebersamaan yang tidak mampu ditolak. Mungkin bagi kebanyakan orang jaman sekarang, yang mengaku manusia moderen, hal ini terkesan kuno. Tidak sesuai jaman. Tetapi bagi saya, hal ini adalah salah satu hal terbaik yang perlu dimiliki oleh sebuah keluarga.


Saya masih mengingat jelas dan merindukan saat-saat di meja makan. Setiap pagi, sebelum kami berangkat ke sekolah dan Bapa ke kantor, aroma teh hangat semerbak di ruang makan. Mama akan memanggil kami untuk menyeruput teh hangat dan bubur (kalau ada) sebagai sarapan kami. Sederhana, tetapi aromanya masih terekam baik dan sekali-kali teringat setiapku melintasi ruang makan sepi ini.


Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, pukul 12.00 siang adalah waktu makan siang. Bagi keluarga kami, yang semuanya sekolah dan bekerja, pukul 14.00 adalah waktu makan siang. Saat semua telah pulang dari keriuhan kantor dan sekolah. Apalagi buat saya yang gemar berjalan kaki sepulang sekolah di bawah matahari Sumba yang begitu terik, meja makan itu mengitu mempesona.
Dari segi menu  tidak ada yang spesial. Makanan sehari-hari kami hanyalah nasi, sayur sawi yang kami sebut sayur putih dan ikan tembang goreng. Variasinya hanya di menu sayuran, cara memasaknya dan menu ikannya. Kadang-kadang saat ada yang berulang tahun, kami makan daging ayam atau daging babi. Tetapi saat saat duduk bersama di meja makan, berdoa makan bersama, lalu prosesi makannya itu sendiri yang sangat spesial dan mahal bagi saya, jika dibandingkan dengan situasi keluarga saat ini.


Mama akan memulai dengan menyodorkan tempat nasi pertama kali kepada Bapa sebagai kepala keluarga. Bukan berarti wanita dan anak-anak lebih rendah, tetapi sebagai wujud penghormatan kepada kepala keluarga. Setelah orang tua mengambil bagian, barulah anak-anak dipersilakan untuk mengambil bagian dan kami semua makan bersama-sama. Saya melihat ada pelajaran karakter dalam kegiatan keluarga seperti ini. Bagaimana kita belajar tertib waktu, mengucap syukur kepada Tuhan, menghormati yang lebih tua, belajar bersabar, dan tata krama. Ya, tata krama. Kami dilarang berbicara saat mengunyah makanan dan membunyikan piring dan sendok saat makan. Kami diajarkan untuk mengambil makanan secukupnya, jika kurang baru menambah agar tidak membuang-buang makanan. Istilah mama saya, “kamu jangan makan seperti tidak ada hari esok.” Artinya, jangan rakus. Lalu kami juga belajar berbagi. Bagaimana caranya agar makanan cukup dan sama rata bagi setiap anggota keluarga. Begitu pula saat makan malam yang biasanya kami lakukan pada pukul 20.00 WITA.



Jika saya melihat kondisi lingkungan jaman sekarang, dimana segalanya membutuhkan waktu, saya meragukan tradisi ini masih dilakukan oleh keluarga muda jaman sekarang. Bahkan di rumah saya pun tidak,sejak mama wafat. Tidak ada lagi orang tua bekerja yang menyempatkan waktu untuk makan bersama keluarga. Masing-masing makan sendiri-sendiri. Kalaupun bersama di rumah, makannya tidak di meja makan tetapi di depan televisi. Tidak ada lagi suasana meja makan yang khidmat dan hangat. Semua dengan caranya masing-masing. Saya merasa beruntung masih dapat menikmati kemewahan makan bersama keluarga. Ya, saya menyebutnya kemewahan. Karena waktu yang disediakan orang tua dan anak untuk duduk bersama di satu meja makan yang mungkin hanya butuh waktu 15-20 menit adalah hal yang langka dan mewah di jaman sekarang. Saya berharap, keluarga kecil saya kelak dapat merasakan kemewahan itu. Dan artinya, saya harus belajar masak!! CATAT ITU VAN!! Untuk segala sesuatu harus ada harga yang dibayar.

12 October 2015

Terbiasa

12.10.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Hal yang biasa, berubah berbeda pada masanya Terbiasa bersama sedari dini dikreasi sang khalik menjadi benih merah jambu Tak pernah disangka, tak pernah terbayangkan apalagi dicita-citakan Percikan itu menyusup bagai pencuri di pekat malam Tak disangka ia telah memasuki hati yang semula terkunci rapat! Waingapu 13-10-2015 Tengah Malam 00:53

26 June 2015

memotong jarak

26.6.15 Posted by Vany Kadiwanu No comments
Pertemuan pertama, Dia terlihat menarik
Semakin banyak pertemuan, Dia semakin menarik
Perlahan-lahan batas itu menghilang
Dari sebuah toko kelontong mencapai teras rumahnya
Sakit masa lalu membuatnya canggung dan ragu
Memperhatikan dari jauh
Memberikan pertolongan kecil
Serpihan cintaku yang tertahan
Kau tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan
Pilihlah, menghirup dan terbuai atau menyapu bersih serpihan itu

Treat People Well

26.6.15 Posted by Vany Kadiwanu 2 comments
Treat people with respect, treat them well without seeing what they do for living or which social level they come from~ VK

Hari ini saya menghadiri suatu acara perpisahan dimana ada pembacaan peringkat, prestasi yg dicapai oleh anak-anak.

Seperti biasa, ada penghargaan yang disiapkan oleh pihak penyelenggara yang diserahkan langsung kepada orangtua.

Satu per satu orang tua maju dengan rasa bangga. Tidak menyangka anaknya meraih prestasi.

Saya melihat tidak semua orangtua hadir. Ada pula yang diwakili mungkin oleh salah satu karyawan yang bekerja pada orangtua anak.

Perwakilan ini berbeda suku dengan orangtua anak itu. Saat nama anak tersebut disebut dan perwakilan harus maju, ada hal yang saya rasa tidak pantas dilakukan oleh beberapa orang pihak penyelenggara. Mereka tertawa melihat perwakilan itu maju.

I was like, I want to cry. Why you treat people like that? He is human too. Im typing this with holding my tears so it wont fall.

Saat bapak itu maju dengan memaksakan senyum, saya merasa sedih. Sumpah pengen nangis.saya membayangkan bagaimana jika orang itu adalah ayah saya, dan tidak diperlakukan dengan baik?

Tiba saat makan bersama, saya melihat bapak tadi tidak berbaur. Ia memilih keluar lewat pintu belakang. Didorong perasaan bersalah saya sebagai salah satu pihak penyelenggara, saya menyapa bapak itu dan mempersilakannya untuk turut makan bersama. Ia pun makan naun tetap tidak berbaur. Sedih. Please treat people with respect, because you are not the best people in the world! Bahasa kasarnya, emang situ oke?