18 December 2011

Kalau Buku Bisa Ngomong



Oleh: Agriani Stevany Kadiwanu

“Hey teman! Hampir 2 tahun sejak kita datang dari Pabrik, tapi belum pernah berjalan-jalan di pulau ini. Lihat, tubuhku penuh dengan debu dan.... ewh! Seekor laba-laba merambat di tubuhku!”
“Kau ini mengeluh terus, sudahlah, pasrah saja. Kau lihat saja keadaan kita sekarang. Bagaimana mungkin kita bisa jalan-jalan, kalau kita terjebak di ruangan terkunci ini dan bertumpukan dengan teman-teman lainnya. Bernafas pun sulit!”

Ini hayalanku akan obrolan buku-buku di perpustakaan SD GMIST Sion Enggohe kala belum diaktifkan. Setumpuk buku-buku bagus yang tercampur aduk, tidak ada klasifikasi, masih terlihat baru tak tersentuh, terkunci dalam suatu ruangan yang begitu luas. Lantai ruangan merindukan dijejaki kaki mungil murid SD ini. Buku-buku haus akan sentuhan dan tatapan ingin tahu anak-anak. dan pintunya, ia terus menunggu seseorang membukanya. Bukan untuk menyimpan barang di dalam perut ruangan, tetapi untuk bertemu dengan teman-teman bukunya. Aku mendengar panggilan mereka, kurasakan kerinduan mereka. Okay buddy! We will try our best!

“hai, buku-buku! Apa kabar? Hari ini kalian akan berkumpul dengan keluarga kalian!”
Semua buku kuturunkan dari tempat mereka berdesakan dan bercampur aduk. Dipilah-pilah, dikelompokkan dengan saudara-saudara sejenisnya.
“Hey, ensiklopedia biologi! Itu saudara-saudaramu!” kuantar dia ke tempat yang sudah kusediakan khusus bagi Klan Ensiklopedia. Mereka bersama-sama dan berjajar manis disitu.
“Hey, cerita rakyat Kalimantan! Keluargamu menunggu di pojok sana! Mari kuantarkan ke Keluargamu, Klan Fiksi!”
Hal yang sama kulakukan kepada Klan buku lainnya. Kuantarkan mereka satu-persatu agar dapat bergabung dengan keluarganya. Ada Klan Islami, Klan Antariksa, Klan Pengembangan Diri, dan Klan IPTEK dan Alam sekitar. Mereka semua terlihat bahagia dapat bersama. Rumah setiap Klan kuberi patok pembatas yang jelas. Tentu saja agar tidak terjadi masalah sengketa tanah. Pembatasnya sederhana, hanya sebongkah batu yang dibungkus plastik warna-warni. Di pojok lemari dekat pintu, ada satu areal parkir yang kusediakan buat buku-buku yang keluar masuk pintu perpustakaan. Namanya, Tempat Pengembalian Buku. Setiap buku yang berjalan-jalan bersama seorang murid SD GMIST Sion Enggohe, sebelum kembali ke rumahnya harus singgah disitu dulu. Hal ini agar buku-buku itu tidak tersesat di rumah Klan yang lain. Tempat Pengembalian Buku itu juga ku beri areal khusus buat tiap klan.

“Okay teman, aku rasa kalian sudah siap bertemu anak-anak kecil yang mencintai kalian.”
Pintu perpustakaan SD GMIST Sion Enggohe menderit gembira ketika kubuka dan dimasuki oleh murid-muridku. Lantai perpustakaan berdecit senang ketika sepatu-sepatu mungil bergesekan di atasnya. Dan yang paling berbahagia adalah buku-buku yang terambil dari rumahnya dan dibawa pulang oleh anak-anak ke rumah mereka. Akhirnya mereka bisa berjalan-jalan di ruang kelas, halaman sekolah, di jalan kampung, bahkan rumah-rumah murid. I can see they are smiling.

Semakin hari, perpustakaan semakin ramai. Anak-anak semakin haus akan membaca, aku sempat kewalahan melayani administrasi peminjaman buku di sekolah. Suatu kali, sempat kuhabiskan waktu bercengkerama dengan Buku Peminjaman. Kami ngobrol tentang hubungan antara anak-anak dan buku-buku.
“Hai Buku Peminjaman! Kau ingat tidak kejadian anak kelas 1 meminjam buku?”
“ohohohoho... Bagaimana mungkin aku lupa. Kejadian itu lucu sekali!”
“Benar sekali. Seperti biasa, ketika diumumkan bahwa perpustakaan dibuka, anak-anak selalu berbondong-bondong datang. Pada suatu kali anak kelas 1 yang baru saja masuk sekolah dan belum bisa membaca juga ikut dalam kumpulan itu. Mereka ingin meminjam buku! Bisa kau bayangkan? Bagaimana mungkin anak kelas 1 yang belum bisa membaca dan masih berusaha mengenal huruf ingin meminjam buku? Dia bahkan mengambil buku dari Klan Ensiklopedia. Dia mengambil si Ensiklopedia Tanaman Buah.”
“Yup, benar sekali. Tapi bukankah itu artinya anak-anak sekarang jadi cinta buku? Aku rasa itu hal yang bagus.”
“Yah, benar sih. Ngomong-ngomong, hubungan antara buku dan anak ternyata jadi seperti simbiosis mutualisme loh. Mereka saling menguntungkan. Ada beberapa anak yang belum terlalu lancar membaca, sekarang jadi lancar sekali membaca. Awalnya, ketika disuruh membaca judul buku yang mau dipinjam untuk data, mereka membaca dengan terbata-bata. Sekarang, mereka dengan cepat menjawab!”
“Betul. Aku akui itu. Hal itu sangat baik aku rasa. Oh ya, apa kau tahu buku apa yang paling populer di kalangan anak-anak SD GMIST Sion Enggohe?”
“Tentu saja aku tahu! Mereka paling banyak mengambil buku dari Klan Ensiklopedia dan Klan IPTEK dan alam Sekitar. Dari Klan IPTEK dan alam sekitar, mereka sering sekali mengambil buku-buku hewan.”
“Yah, betul. Aku heran loh. Sewaktu aku kecil, aku lebih tertarik dengan buku dari Klan Fiksi. Semua yang berbau imajinasi, bergambar, dan berwarna-warni. Tetapi anak-anak ini beda. Mereka haus akan pengetahuan.”
“mereka memang berbeda. Mereka punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ngomong-ngomong, sudah waktunya jam pelajaran. Aku rasa kita harus kembali ke tugas masing-masing.”

Waktu berlalu, perpustakaan selalu ramai. Buku-buku semakin bahagia. Tak ada lagi keluhan tentang sepinya dunia mereka. Buku-buku telah mejadi sosialita di Pulau Enggohe. Khususnya di kalangan pergaulan anak-anak. Dan ternyata ada juga loh orang tua yang ikut membaca buku yang dibawa pulang anaknya

Pertama

Kata orang segala sesuatu yang pertama akan berkesan
Pacar pertama
Bayi pertama
Hari pertama di tempat kerja
Dan masih banyak hal pertama lainnya

Selain berkesan, pertama identik dengan juara, terhebat, paling, terbaik, penting
Posisi pertama, adalah posisi yang membanggakan
Posisi yang penting bagi kebanyakan orang, tak ingin direbut

Karena menjadi yang pertama begitu penting, maka setiap orang sejak kecil hingga dewasa berusaha untuk menjadi yang pertama
Juara pertama di kelas
Juara pertama dalam perlombaan
Penemu pertama akan suatu benda atau jasa
Orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan
Muncul pula yang namanya Hak Cipta untuk mematenkan siapa yang pertama membuat sesuatu

Namun, kita tidak boleh melupakan bahwa setelah yang pertama, masih ada selanjutnya
Kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya
Bagaimana membuat yang pertama ini dapat dilanjutkan hingga seterusnya, itu yang penting
Apalagi jika hal itu berguna atau bermanfaat bagi semua orang
Jangan sampai hanya berhenti di pertama

Tak usahlah diperebutkan
Tidak akan ada yang pertama, apabila tidak ada yang kedua
Pertama butuh kedua ketiga dan seterusnya untuk menjadi yang pertama
Bekerjasama untuk membuat yang pertama ada kelanjutannya
kedua, ketiga, keempat dan seterusnya
Bekerjasama agar yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sebaik yang pertama bahkan lebih baik

Pertama bukan hanya untuk saat ini, tetapi pertama harus ada untuk selamanya

(Pengajar Muda II, Sangihe :
”Bukan yang pertama, tetapi ingin melanjutkan gagasan pertama”)

Di Tepian Sumur Kita Bercerita

Oleh : Agriani Stevany Kadiwanu

Berlindung di bawah pohon pala di samping sumur, aku nimbrung dengan seorang Ibu yang sedang mencuci pakaian. Cucian kotor menumpuk. Satu-satunya cara supaya aku kuat menghadapi tantangan mencuci baju kotor menumpuk menyebalkan dan membuat lelah jiwa ragaku itu ialah dengan cara bercerita dengan si ibu. Ada suatu kedekatan yang terjalin di antara sesama pencuci baju. Proximity. Kedekatan emosi.

Kami mulai bercerita kesana-kemari. Bukan berarti kami bercerita sambil kesana dan kemari. Pahamilah bahwa itu ungkapan. Jangan coba-coba bilang, “apa sih?” karena aku sedang ingin bercerita dengan cara yang menyebalkan. Si Ibu, yang bernama Ate (bukan nama sebenarnya) bercerita tentang anaknya dan bagaimana ia akan berusaha semampu mungkin agar anaknya bisa sekolah sampai tingkat tertinggi, atau minimal menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Aku akui, anaknya memang pintar. Anaknya terkenal pandai dan haus pengetahuan di kampung ini. Selain anak sulung yang kami bicarakan, kami juga ngobrol tentang anaknya yang kedua, laki-laki juga, dan masih berumur 5 tahun. Anak ini belum bersekolah, dan anak ini dekat denganku. Anaknya lucu dan sanguinis. Dia ceria dan tawanya yang melengking selalu dikumandangkan setiap kali dia gembira. Dia juga selalu punya banyak pertanyaan. Anak ini memang pandai, i can see it. Seperti bakat alam.

Setelah bercerita banyak, barulah aku tahu bahwa memang sejak di kandungan, anak ini sudah diperhatikan. Setiap bulan diperiksakan di dokter kandungan di Menado, karena kebetulan waktu itu sang ibu sedang di Menado. Ibunya juga memperhatikan kepenuhan nutrisi selama hamil, bahkan membeli vitamin untuk membantu perkembangan otak bayi dalam kandungan.

Dari pembicaraan kami di tepi sumur, aku juga mengetahui sesuatu tentang anak itu yang cukup membuatku terkejut.
“Enci, waktu itu, si Lixpe (bukan nama sebenarnya) ada dapat liat dos. Ada nama saya. Dia lalu datang dan bilang, mama, ini mama punya dos? Napa ini ada mama punya nama. Ini ada huruf T-A-E. Trus kita tanya, Lixpe sudah bisa membaca? Siapa ada ajar? Lalu dia bilang Enci ada ajar”

Aku terkejut dan reaksiku dan nada bicaraku seperti mendengar pernyataan cinta, “Masa? Lixpe sudah bisa membaca?” sambil menyentuh dada dengan tangan. Bergaya terkejut tapi cute.

Jujur, i have no idea! Aku Cuma mengajarinya beberapa kali. Menggunakan lagu ABCD-Z, dengan cara diulang-ulang bertahap. Setiap kenal 5 huruf, baru ditambah lagi. Sambil bermain menggunakan lagu itu. Sambil duduk-duduk kami nyanyikan bersama, sambil berjalan-jalan juga kami nyanyikan lagu itu sembari melompat-lompat. Kadang kusuruh Lixpe bermain dengan spidol, menuliskan huruf-huruf yang pernah kuajari. Tapi aku tak pernah menyangka bahwa dia belajar secepat itu. Anak yang luar biasa :)

"Mata, Rambo, Tatto, Gigi"

Stanley, entah kata atau kalimat apa yang bisa menggambarkan betapa spesialnya anak ini. Mau bilang Nyolot tapi takutnya tidak membawa aura positif. Kegiatan Stanley setiap hari adalah menghina temannya atau menyambung semua perkataan guru. Istilah jaman dulunya, nakal. Biar kugambarkan perawakannya, tinggi semeter kotor, kulit sangat hitam dengan ukuran gigi yang melebihi normal, serta bintik-bintik putih di sekitar hidung dan dagu atau nama populernya, panu. Kegiatan sehari-hari dari anak ini adalah menghina semua teman kelasnya. Beberapa contoh:
Pertama, Sarif. Sarif adalah salah satu anak yang imut, berbadan kecil dengan mata berbinar. Dia dihina Stanley dengan sebutan “MATA.” Hal ini karena mata Sarif memang agak besar. Kedua, Reva. Reva dijuluki “RAMBO” oleh Stanley, entah mengapa. Saya tahu Reva tidak suka disebut demikian. Ketiga, Shinta. Shinta dijuluki “TATO” oleh si Stanley, ini juga saya tak tahu apa asal muasalnya. Setiap hari Stanley semakin menjadi-jadi. Dia ketua kelas, tetapi biang rusuhnya justru dia sendiri (dan Rafael). Sudah diatasi dengan cara memindahkan tempat duduknya, tetapi tidak mempan. Dia malah semakin menjadi-jadi. Padahal dia anak yang sangat cerdas. Suatu kali, karena sudah tidak suka dengan kegiatannya mengejek temannya, saya pun tanpa sadar menyebutnya “GIGI.” Kontan sekelas tertawa, dan dia demi mengalihkan rasa malunya, malah menghina temannya yang lain. Apa yang harus kulakukan?

23 Tahun yang Hening

No surprise party, no bithday cake, no family, no best friend, just me, myself, and i.

Usiaku beranjak dari posisi 22 ke angka yang lebih besar 1 tingkat, 23. Hanya doa syukur yang kupanjatkan kepada Allah, menjadi bukti bahwa hari ini aku berulang tahun. Tidak ada orang di rumah yang temaram ini. Hanya aku sendiri. Hanya bunyi langkah kaki terdengar di telingaku malam ini. Mondar – mandir mencari sinyal di dalam rumah, berharap menerima SMS selamat ulang tahun dari para kerabat dan teman. Setidaknya, SMS itu menandakan aku tidak benar-benar sendirian di rumah ini. Telepon dari orang terdekat masuk, leganya hatiku. Di jaman yang serba canggih ini, segala ucapan pasti masuknya lewat dunia maya. Facebook, apalagi kalau bukan situs itu? Oh, masih ada twitter! Tapi sayang, tak dapat kulihat disini.
23 tahun yang hening, takkan kulupakan. Enggohe,18 September 2011.

Biar Jo Kita yang Ganti

Hari jumat yang mendung, sejuk, sempat rintik, saya dan 4 orang murid kelas 5, kelas waliku, sedang bersantai di pondok baca. Kami belum pulang. Sudah tidak ada orang di sekolah, hanya tinggal kami berlima yang bercanda sambil melihat foto-foto dan berbagai video yang kami buat bersama. Potongan memori yang kami buat selama 3 bulan bersama. Ketika sedang bersantai itu, Sarif, salah satu muridku berkata, “Ibu, ayo kita les! Kita suka mo pintar. Kalo itu anak kelas 4 tidak datang, biar kita yang ganti. Kita suka,” serunya dengan mata hampir keluar dari penampangnya alias melotot saking seriusnya. Senang sekali mendengar semangat belajar muncul dari dirinya. Baiklah, saya juga tidak boleh kalah dari Sarif. Saya juga harus lebih semangat lagi berbagi ilmu.

“Ibu nyanda usa balek lagi, disini saja. Kita mo tanggung de pe doi”

Di suatu siang yang mendung, saya sedang duduk-duduk di atas bale-bale yang terdapat di samping rumah ibu guru kelas 1. Seperti biasa, anak-anak suka bermain di pantai. Kebetulan, rumah sang ibu guru pas di depan pantai. Begitu melihatku ada disitu, mereka beramai-ramai datang. Kami mulai bercerita kesana-kemari, karena memang pada dasarnya anak-anak muridku ini cerewet-cerewet. Sampai tiba-tiba seorang anak mengangkat topik demikian, “Ibu nyanda usa bale lai. Tinggal disini saja terus-terus sampe nanti” maksudnya, saya disuruh tinggal disini, di Enggohe selamanya. Saya balas begini, “bagaimana ibu mau tinggal disini? Sapa mau tanggung ibu pung hidup disini?” anak tadi kemudian dengan senyum nakalnya berkata, “biar kita yang mau tanggung de pe doi ibu” temannya yang lain juga mengiyakan. Lalu ia melanjutkan, “ibu jemput semua ibu pung keluarga di NTT sana, bawa ke sini,” katanya. Hahaha... lucu sekali anak-anak ini. Jadi agak besar kepala jadinya, disayang begini. Saya lalu membalas lagi perkataannya, “Sekolah dulu bae-bae. Nanti kalo su kaya baru bawa ibu ke sini.” Tiba-tiba salah seorang murid lainnya berkata sambil tersenyum, “nyanda ada orang kaya di sini ibu.” Ahahaha... anak ini polos sekali. Murid lainnya kemudian menyambung, “iya ibu, betul. Kecuali jadi guru ibu e?” saya jadi heran, darimana dia dapat pemikiran bahwa jadi guru bisa kaya? Mungkin karena pekerjaan paling top di desa ini adalah menjadi seorang guru. Alangkah lucunya anak-anak ini.

"Kita So Nyanda Mo Tabodo Lai"

Pada suatu sore, sepulang pelajaran tambahan di sekolah, salah satu anak kelas 5, murid waliku, Riafni berkata, “Ibu, kita so nyanda mo tabodo lai. Hari-hari belajar terus dengan ibu” katanya sambil berlari-lari kecil di sampingku, berusaha menyejajarkan langkahnya. Harapanku sama dengan perkataannya. Les setiap hari ini aku harap dapat mencerdaskan mereka sedikit demi sedikit.

“Yang bohong, BISUL!”

Pada suatu siang, hari-hari biasa di sekolah, pelajaran sedang berlangsung di kelas 5 SD GMIST Sion Enggohe. Sementara pelajaran berlangsung, seorang murid bernama Sarif Israel berkata, “Ibu, saya pung pantat kena bisul. Gara-gara ibu ada bilang.”
Spontan aku tersenyum. Kuingat kembali kata-kata yang biasanya kugunakan untuk mengancam anak-anak yang suka berbohong, “Betul atau bohong? Kalau bohong, bisul!”
Kebetulan yang lucu. Entah mereka percaya atau tidak, yang pasti, kalau bohong lagi, BISUL!

"Ibu Malas!"


Noverli yang baju kotak-kotak merah

Suatu siang, aku mengajar kelas IV karena tidak ada guru di kelas mereka. Kami belajar matematika, tentang pembagian bersusun. Entah sudah berapa kali menjelaskan materi ini, namun mereka tak kunjung mengerti. Raut kebingungan masih tergambar jelas di muka Vega, Lia, Pipin. Sikap acuh masih ditunjukkan oleh Saidin, Meldy, Jun, dan Stavol. Teriakan lantang bahwa basih belum mengerti masih diserukan Noverli. Hanya satu orang yang terlihat sudah tercerahkan, Aprisye. Karena kelelahan menerangkan materi yang sama berulang-ulang hari itu, tanpa sadar aku menguap. Noverli, dengan sigap berkata, “Ibu tadi menguap to?” pada awalnya aku tak sadar bahwa aku menguap. Tapi tidak mungkin Noverli berbohong. Aku pun menjawab, “Ia. Memangnya kenapa kalau ibu menguap?”
Dengan santainya, dengan senyum polosnya, Noverli berkata, “Berarti ibu malas no!”
Hahahahaha... iya Noverli, ibu akan lebih sabar mengajar kalian walaupun tak kunjung mengerti.

“Karet Pengusir Kuntilanak”

Minggu ke dua September, suasana mencekam meliputi seluruh desa Bukide. Pasalnya ada seorang ibu hamil yang meninggal dengan bayi masih di dalam perut. Ada cerita bahwa hantu si ibu sedang mencari bayinya. Kepercayaan masyarakat Bukide, apabila seorang ibu hamil meninggal beserta bayi di kandungannya maka ia akan menjadi kuntilanak yang berkeliaran setiap malam selama 3 hari untuk mencari anaknya.

Tidak ada anak kecil akan berani berjalan sendirian ketika hari mulai gelap, anak-anak balita sudah di dalam rumah bila gelap dan dipakaikan peniti yang ada bawangnya di baju mereka. Hal tersebut untuk mengusir setan ceritanya. Orang tua juga tidak sedikit yang mempercayai hal ini.

Lucunya, ada seorang murid yang berkata kepadaku, “Ibu jaga bajalan kalau malam? Jangan bajalan ibu, itu setan ada mo bajalan. Kalau anak-anak kena racunnya nanti mau mati.” Kujawab dengan polos, “Ibu kan bukan anak-anak. Jadi tidak apa-apa to?” Lama Riafni terdiam, lalu menjawab, “Ia ibu, tapi jangan bajalan malam. Itu setan ada keluar kalau malam-malam.”

Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil. Entah bagaimana menyampaikan bahwa kita tidak boleh takut dengan hal mistis seperti itu. Apalagi takut dengan tahyul tambahan seperti racun kuntilanak itu.

Malam harinya, anak-anak kelas IV menodongku untuk belajar. Sebenarnya tidak ada jadwal mereka les hari itu. Tetapi ketika aku pulang ke rumah, anak-anak kelas IV sudah ramai menungguku. Aku pun dengan senang hati memenuhi keinginan mereka. Sementara belajar, tercium bau karet yang dibakar.

Semua anak-anak geger. Aku bingung, ada apa ini?

“Ibu cium tidak ini bau?” Aprisye, salah satu murid kelas IV yang bertangan kidal menanyakan kepadaku dengan muka serius.
“Iya, ibu ada cium ini bau. Kenapa memangnya?” Jawabku.
“Ada setan keluar berarti ibu. Ada yang bakar karet sendal di dekat mesjid situ.” Aprisye dan anak-anak lain mulai ketakutan. Aku bingung.
“Tunggu-tunggu! Maksudnya apa?” tanyaku bingung.

Noverli, anak laki-laki usia remaja yang entah sudah berapa kali tahan kelas itu menjawab pertanyaanku, “Itu orang ada bakar sendal jepit ibu. Kalo itu setan mo cium bau karet, dia mo lari.” Ooooooh... begitu rupanya.

Selesai belajar beberapa anak diantar pulang oleh Noverli karena takut pulang sendiri. Lucunya anak-anak ini. Sudah diberitahu bahwa tidak ada setan yang berkeliaran masih saja takut.