25 January 2013

Aku belajar untuk ... (by Vany Kadiwanu)

Aku belajar tuk mengurangi senyum
Aku belajar tuk berhenti meminta maaf
Aku belajar mengatur hari
Aku belajar menyaring dengan musik
Aku belajar tak mengeluh
Aku belajar bersyukur
Aku belajar banyak hal

21 January 2013

Jakarta dan Banjir

Ketika banjir datang...

Taman Baca Namu Angu 1

Berawal dari niatan masing-masing, dituntun oleh tangan tak terlihat, kemudian bertemu dengan orang-orang baru yang semuanya dikenal lewat dunia maya. Hanya satu hal yg mempersatukan kami. Keinginan untuk melakukan sesuatu bagi Sumba, tanah kelahiran kami.

TAMAN BACA NAMU ANGU 1
BUKA : Senin-Sabtu
PUKUL: 16.00-20.00 wita
LOKASI: Belakang GKS Umamapu,depan pastorinya

Taman baca yg baru berdiri ini,selain sedang berusaha mengajak lebih banyak orang terlibat sebagai sukarelawan,juga sedang berusaha melengkapi buku-bukunya. Masih banyak ruang kosong di lemari buku,tetapi kami percaya bahwa Tuhan akan mengisinya melalui kepedulian anak-anaknya :)

JAKARTA's night

Jakarta mungkin tidak punya pemandangan alam yang apik untuk dijadikan penghilang penat.

Jakarta adalah kota dimana kita bisa melihat arti kerja keras dan kesungguhan.

Pemandangan Jakarta yang ramai di malam hari menjadi bukti bahwa kota ini begitu hidup.

Kerlap-kerlip lampu dari banyak bangunan sebenarnya cukup menarik dan indah dipandang.

Dimana pun kita berada, di kota, di desa, dimana saja, kiya harus selalu bersyukur dan memandang segalanya dari sisi positifnya :)

Jakarta, 4 Januari 2013

10 January 2013

Penasaran

pict: google


Mau tau aja, apa mau tau banget?
Mmmmm... kasih tahu ga ya?

Ini nih, dua kalimat yang paling menyebalkan di seluruh dunia buat saya. Maksudnya apa coba? Kalau misalnya kita kepo atau sangat ingin tahu urusan orang lain, tentu wajar bila orang itu tidak ingin memberitahukannya kepada kita. Lain halnya bila kejadiannya seperti dua kejadian berikut ini:

A          :           Guys, doain gue yah buat besok.
V          :           Doain apa nih?
A          :           Pokoknya doain aja. Masa ga mau temennya seneng?
V         :           Ya doa kan mesti jelas juga. Masa mau doa trus ngomongnya “Tuhan berkati
                        teman saya yang....yang...mmm...kasi tau ga ya?”

Menyebalkan sekali bukan? Logis aja deh. Jika kamu ingin memberitahukan sesuatu, katakan. Jika memang tidak ingin membagi apa-apa, just keep it to yourself. Membagi setengah-setengah itu sangat menganggu. Jika tidak ingin ditanya, jangan memberikan sepotong kalimat menggantung. Itu sangat aneh. Setidaknya, bagi saya, itu aneh.

Kejadian menggemaskan berikutnya:

V         :           Kemarin saya ketemu dua orang Sumba yang luar biasa loh. Kita sharing hal-
                        hal positif dan mereka pun asik diajak ngobrol
A         :           Ciee... Vany, menularkan semangat positif
V         :           Sekali-sekali kan ingin juga
A         :           Jadi ingat Vany yang dulu #eh just saying
K         :           Ia..beda sama Vany yang dulu
V         :           Emang bedanya dimana? Rasanya sama saja. Bla bla bla..
K         :           Gpp kok Vany bla bla bla *tanpa ada penjelasan yang beda itu apa

Mengapa saya geram dengan percakapan ini? Karena tidak jelas apa yang beda. Tidak suka bila apa yang berkembang di pikiran orang adalah kesimpulan diri mereka sendiri tanpa memahami yang sebenarnya. Itu sangat menyebalkan.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, sebaiknya saya tidak perlu terlalu memikirkan hal tak penting ini. Tak baik buat jiwa, raga, dan pikiran. Mari kita pikirkan yang berguna saja. Yang berlalu, biarlah berlalu.

Badai pasti berlalu.

Tapi ingat, Badai pasti datang lagi – Indra Katik

*okey, sukses membuat saya semakin bad mood X.X

Waktu = Mahal

pict : google

Orang yang tidak tepat waktu ibarat orang yang tak menghargai hidup. Sudah dikasih gratis sama Tuhan, masih juga dibuang-buang. Apa mungkin karena gratis itu ya? Tapi cobalah dipikir. Jika waktu dan hidup mesti dibayar, sanggupkah kita? Karena hidup dan waktu pasti akan sangat mahal harganya, tak seperti harga sepotong tempe yang hanya Rp.5000 di pasar.

Waktu sangat berharga bagi saya. Terkadang saya merasa sesak atau sebal dengan orang-orang yang tak menghargai waktu. Jika yang berlalu adalah waktumu, tak masalah. Asal jangan kau buang waktuku. Egois? Bukan. Saya hanya tidak ingin terseret kebiasaan orang lain. Beda halnya dengan telat karena cuaca atau kecelakaan di tengah jalan.

Semua ini bermula sejak saya kecil hingga remaja. Orang tua saya adalah orang yang sangat tepat waktu. Jam 7 sekolah, jam 6.30 sudah harus ada di Sekolah. Jika di undangan tertulis Jam 7 malam acaranya, maka sebelum jam 7 kami sudah berangkat dari rumah. Kami dibiasakan untuk tepat waktu. Dari buku-buku yang kubaca serta film yang kutonton pun sebagian besar mengajarkan pentingnya menghargai waktu. Hal ini terbawa hingga kuliah. Kuliah pukul 8, maka 15 menit sebelum pukul 8 saya sudah di kelas. Seperti biasa, kelas itu selalu kosong saat saya memasukinya. Semua pengalaman ini terbawa hingga saat ini.

Saya pernah dinasehati oleh seorang Paman saya di Jakarta, kebetulan ia adalah seorang konsultan IT yg sering bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar dari luar negeri (Om Johnie Manukoa) :
“Van, kalau bekerja dengan orang luar, usahakan selalu tepat waktu karena mereka tidak suka jam karet. Usahakan kamu yang menunggu, bukan mereka yang menunggu.”

Saya ingin ini diterapkan juga ketika saya bekerja dengan orang Indonesia, bukan hanya ketika berurusan dengan orang luar negeri.
Mari budayakan tepat waktu. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup.

Anak muda tidak tertidur


foto: istimewa 

Buku adalah Jendela dunia. Dari buku kita dapat memelajari banyak hal. Melihat dunia luar tanpa beranjak sedikitpun dari kursi kita. Terkadang, buku dapat memberikan solusi untuk masalah yang kerap kita temui sehari-hari. Untuk itulah, membaca itu penting dan Taman Baca pun ingin kurintis.

Berawal dari pemikiran sangat sederhana ketika pulang ke Waingapu. Banyak buku koleksiku dan adik hanya menjadi sarang debu, dan kami putuskan akan membuka taman baca gratis di teras rumah. Awalnya terpikir untuk menjalankannya sendiri, karena tak terlintas bayangan akan keluar lagi dari Sumba tercinta. Ternyata, Tuhan berkehendak lain. Ia memberiku kesempatan untuk belajar lagi lewat mengajar di salah satu sekolah swasta internasional di Jakarta.

Lemari sudah tersedia, buku pun hanya menunggu disampul. Sayang sekali keinginan ini harus ditunda. Sampai suatu hari, ketika berkumpul bersama beberapa orang teman dekat, salah satu dari mereka, Nita Rustam bertanya, “Van, baru bagaimana sudah rencananya kau bikin taman baca?” Dengan lunglai kumenjawab, “Mau bagaimana lagi Nita? Sa mau pergi nih.” Dan jawaban Nita membuat harapan itu muncul kembali, “Kan ada kami disini.”
Sebelum respon membahagiakan tadi berubah lagi, saya langsung menyambar kesempatan itu dengan mengatur jadwal penyampulan buku. Sekitar 2-3 kali pertemuan dan buku,majalah, komik, semuanya sudah siap.

Desember datang, teman-teman mulai sibuk. Saya semakin panik karena sebentar lagi saya harus berangkat ke Jakarta dan Taman baca belum dieksekusi. Sebenarnya jika saya ingin mulai sendiri, hal itu mungkin saja sebab bukan hal baru bagi saya dalam mengelola perpustakaan. Tetapi yang kuinginkan berubah dari awalnya milik sendiri, ingin kujadikan milik bersama. Karena sebenarnya ada mimpi dan visi yang sama dari banyak teman-teman tertuang dalam Taman Baca ini. Hanya saja, solusi manajemennya belum ditemukan.

Tidak ada yang kebetulan, saya percaya ini adalah jawaban doa saya. Tuhan mempertemukanku dengan Kak Umbu Nababan yang kemudian menghubungkanku dengan orang-orang baru yang juga punya mimpi yang sama. Kini telah terbentuk sebuah gerakan pemuda yang bernama Gerakan Pemuda Sumba. Gerakan ini menaungi Taman Baca Namu Angu dan juga berbagai kegiatan positif dan sosial lainnya. Kami memang masih seumur jagung, tetapi semangat kami untuk melihat generasi muda Sumba yang lebih baik sangat besar.

Saat ini kami sedang berusaha mengumpulkan buku dari orang-orang yang juga tergerak untuk menolong. Kami memiliki mimpi bahwa di seluruh Sumba akan ada banyak taman baca, sehingga generasi kami menjadi generasi yang berwawasan. Meski tidak ada toko buku di Sumba, tetapi kami yakin akan menemukan orang-orang yang akan ‘membawa’ buku bagi kami.

Pembelajaran yang kudapat dari ide sederhana ini adalah:
Tuhan selalu membuka jalan bagi apa yang memang sudah Ia kehendaki harus terjadi. Kita sebagai perantaraNya, hanya perlu percaya, berdoa, dan berusaha. Nikmati setiap prosesnya, dan semuanya akan indah pada waktuNya.

Vany Kadiwanu
Seseorang yang belajar dari Mengajar