28 December 2014

Mengapa menjadi guru?

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Menjadi seorang guru bukan cita-cita saya sejak kecil.

 

Sama halnya seperti saat kita jatuh cinta. Kita tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa sejak kecil. Semua terjadi melalui berbagai proses dan peristiwa. Demikian halnya keputusanku menjadi seorang guru. Bukan karena mama saya dulu juga seorang guru. Bukan karena saya memiliki banyak guru yang baik semasa sekolah dan berkuliah. Bukan. Itu semua adalah referensi bagi saya bagaimana caranya menjadi guru yang baik, bukan alasan mengapa saya memutuskan menjadi seorang guru.

 

Menjadi seorang guru memberikan saya kebahagiaan tersendiri. Awal mulanya adalah sejak saya menjadi seorang pengajar muda di Sangihe. Semakin terpupuk saat mengajar di Jakarta dan Sumba. Setiap pertemuan, interaksi, proses bertumbuh bersama, trial and error dalam kelas, relasi yang terbangun dengan murid membuat saya mencintai profesi ini. Mencoba, apakah bisa mendapatkan hati anak-anak, membuat mereka mencintai apa yang mereka pelajari, menyisipkan petuha-petuah dan konsep kehidupan dalam sesi belajar mengajar merupakan hal yang menantang bagi saya.

 

Saya tidak peduli dengan peringkat kelas. Saya tidak menomorsatukan prestasi akademis. Prioritas utama dalam kelas saya adalah karakter dan kemauan berubah.

 

Saya percaya, anak yang berkarakter baik otomatis belajarnya juga akan lebih baik. Anak yang mau berubah, otomatis kemampuan akademisnya akan meningkat. Saya tidak akan pernah menuntut mereka untuk menaikkan nilai dengan drastis. Perlahan tetapi pasti. Mengerti bukan menghafal atau karena perintah. Belajar karena mau bukan karena terpaksa.

Bertanggung jawab karena menghargai waktu bukan karena takut dihukum. Berani tampil di depan, memberikan pendapat tanpa takut salah.

 

Semuanya itu tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Butuh beberapa bulan untuk bisa menanamkan setiap hal positif tersebut kepada diri setiap anak.

 

Teringat berbagai pengalaman yang saya dapatkan saat mengajar di Sangihe, Jakarta maupun di tempatku saat ini, Sumba. Semuanya sangat berkesan. Mungkin saya akan berusaha menceritakannya lebih spesifik pada tulisan khusus lain kali. 

Saat ini, yang ingin saya katakan hanyalah, saya sangat bangga menjadi guru.


Mengapa Pergi ke Sekolah?

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Kelas unggulan

Juara kelas

Sekolah elit

Semua itu hal yang sia-sia menurut saya. Tidak penting sama sekali. Yang terpenting itu kualitas manusianya. Heran masih ada orang tua yang peduli dengan hal remeh ini. Semua hal di atas hanya harapan palsu. Tidak berlaku untuk menghadapi dunia. Dunia tidak butuh mereka yang berasal dari kelas unggulan, juara kelas atau sekolah elit. Dunia butuh manusia yang berkarya. Karya orisinil, kreatif, pemecah masalah, mampu berkomunikasi dengan baik dan punya kemampuan persuasive. Dunia tidak butuh manusia yang hanya terlihat bagus angka. Dunia butuh menusia yang sesungguhnya. 

Einstein, Steve Jobs dan banyak penemu atau pencipta lainnya bahkan tidak sekolah. Mereka berkarya. Mencoba, belajar dari kesalahan, belajar apa yang mereka sukai. Pada akhirnya, mereka yang terus berkarya dan mencoba adalah mereka yang sesungguhnya mengerti makna belajar. Mereka yang belajar karena diperintah atau kewajiban pada akhirnya akan terus mempertanyakan, mengapa mereka melakukan itu semua? Untuk apa? Lebih parah lagi kalau mereka hanya melakukannya tanpa bertanya mengapa. 


Hari Minggu Ceria

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Hari ini pertama kalinya saya bangun pagi,bahkan terlalu pagi di hari libur.
Pukul 4 pagi saya sdh bangun dan bersiap untuk gereja subuh. Ya, gereja subuh! Hahaha... Saya sendiri tidak percaya saya bisa ke gereja subuh. 
Ini semua karena janjian dengan sahabat lama, Jekon yang sudah lama tdk saya jumpai. 
Jekon yg dulu kerempeng sekarang sudah berisi. Jekon yang dulu biasa menjemput saya dg motor Honda Win, sekarnlang sdh bisa mengemudikan mobil.
Hanya sedikit yg tidak berubah, dia tetap sahabat yang asik dan gaya bicaranya yg seperti robot tidak berubah.
Pukul 7, sepulang gereja�gerejasgey Berganti pakaian dan pergi ke rumah teman yang lain. DiAn. Ya hari Ini saya diajAk dian melihat proses pembuatan babi babi guling. Seru. MAmanyA pintar memasak.
Nantikan fotonyA yaaa...hehehe

27 December 2014

Tinju Masa Depan

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Sembari menonton siaran tinju, saya berpikir mengapa di zaman secanggih ini masih ada saja olahraga sebrutal itu. 

Melihat wajah atlitnya yang lebam-lebam hingga bengkak dan entah sudah berapa banyak rusuk yang retak, saya merasa tak tega. Pikiran saya melayang ke rumah dan apartemen para atlit tinju yang berlaga. Melihat kerutan cemas di wajah istri mereka. Melihat raut cemas dan rindu anak-anak yang menyaksikan siaran pertandingan ayahnya. Apakah esok ayah kan pulang? Seberapa parahkah lebamnya?

Apa serunya melihat sepasang manusia saling memukul? 

Tinju, tujuan utamanya adalah mendapatkan poin dari setiap pukulan pada daerah tertentu, bukan seberapa parah hasil pukulannya bukan? Lalu mengapa harus dilakukan dengan begitu kasar? Mengapa panitia tidak memberikan alat pelindung agar mereka tak lebam? Yang penting kan sasaran pukulannya, bukan lebamnya.

Seandainya saja ada orang yang menciptakan pakaian khusus untuk pentinju yang terhubung dengan computer. Pada bagian-bagian yang memang harus mendapat poin, jika terkena pukulan maka poinnya otomatis masuk ke computer. Dengan demikian, lebam berkurang dan kecurangan bisa diatasi. Asyik sekali membayangkan baju tersebut diciptakan. 

Bisa saya bayangkan betapa senang hati keluarga sang petinju. Mereka akan menonton pertandingan suami dan ayah mereka tanpa raut cemas dan hati ketar ketir. Mereka dapat yakin bahwa esok, suami dan ayah mereka akan pulang dengan tubuh sehat dan bugar.

Di Belakang Truk Kuning

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah

Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan

Oh, Kubahagia

-Sherina

 

Natal ke dua, sore ini, kuputuskan untuk menyingkirkan rasa malas dan beranjak ke kamar mandi. Bersiap untuk mengunjungi sanak saudara dan memberi hidung sebagai salam natal. Yah, tradisi ‘pigi ciom idung’ ke rumah sanak saudara perlu dilakukan pada momentum seperti ini.

Semua siap, kemana tujuanku? Yang terpikir hanya ke dua tempat, sebab tempat lain sudah kukunjungi kemarin siang. Baiklah, kuhidupkan starter sepeda motor baruku. Motor yang entah sudah berapa lama tidak kucuci. Toh akan kotor lagi.

Kutancap gas, menuju rumah Oma di Matawai. Baru 5 menit berjalan, lampu merah menghentikanku. Tepat di depanku ada sebuah truk kuning bermuatan sisa-sisa rumah tangga. Tetapi bukan tumpukan itu yang menarik perhatianku, bukan juga aromanya.

Mereka, seorang ayah berpakaian lusuh bersama dua orang putrinya yang berambut panjang, yang duduk diantara muatan truk kuning. Seolah baru melihat kota, sang anak dengan bahagia melihat ke kiri dan ke kanan. Menunjuk sekitarnya dan tersenyum bahagia. Sang ayah merangkulnya, berusaha agar sang anak tidak terjatuh akibat getaran truk. Tak sedikit pun mereka terlihat tergangu dengan aroma muatan truk.

Teringat kembali tema natal gereja, Thank God for My Family. 

Bahagia itu, memiliki keluarga yang saling mengasihi meski hidup dalam keterbatasan. 

Bahagia itu ketika kita merasa aman dalam rangkulan orangtua tanpa peduli apakah kita sedang berada di truk sampah atau mobil mewah. 

 

Dalam hatiku terbersit kenangan masa kecil saat bersama Bapa dan mendiang Mama. 

Kami mungkin tinggal dalam sebuah gubuk, tetapi masa itu adalah masa yang paling kurindukan.

Kami mungkin hanya menonton TVRI, namun suasana ruang TV itu selalu kurindukan.

Kami mungkin hanya makan ikan goreng dan daun ubi tumbuk, tetapi saat duduk bersama dan berdoa di meja makan selalu kurindukan.

Kami mungkin sering berjalan kaki atau mencuci di sungai, tetapi kenangan itu adalah kenangan yang paling berarti.

Aku tak butuh mobil, aku tak perlu rumah besar, aku tak peduli kita makan apa, yang kuinginkan adalah ‘rumah’.

Betapa bahagianya kedua putri yang dirangkul ayahnya di belakang truk kuning itu.

Sahabat

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Menurut kalian siapakah sahabat itu? 

Apakah dia yang setiap hari bertemu denganmu? 

Apakah dia yang selalu di sisimu?

Buat saya, sahabat tidak harus selalu bersisian raga. 

Sahabat adalah mereka yang berbagi tangis dan tawa dalam jarak.

Meski terpisah jauh, meski tak sering bertemu tetapi setiap pertemuan dan perbicangan selalu sarat makna dan tulus.

Saya punya beberapa sahabat jauh dan dekat.

Kami mungkin tidak setiap hari bertemu.

Kami mungkin tidak setiap saat berkomunikasi.

Tetapi setiap pertemuan dan komunikasi yang terjadi selalu berarti, tulus dan tidak simbolis untuk media upload saja.

Apakah kalian punya sahabat yang seperti itu?

Saya punya.


Gabungan khayalan dan kisah nyata. Enjoy!

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Pernah tidak kalian merasa yakin akan sesuatu tanpa tahu mengapa?

Berbagai hal atau pikiran buruk mungkin datang, tetapi jauh di lubuk hati, kalian tahu bahwa ‘itu sudah’ tidak mungkin yang lain. Yakin 100%!

Saya sedang merasakan hal tersebut saat ini, dalam beberapa aspek. Namun, saya yakin hal yang paling seru dibahas sepanjang masa adalah masalah percintaan. Suit suiiiitttt…. 

Saya memiliki kebiasaan untuk mencoba melupakan orang yang disukai dengan menyukai orang lain. Beberapa waktu lalu, saya sempat mengunggah sebuah status yang punya makna lain dibaliknya:

“Karena bajunya terlalu mahal, terpaksa beli obralan. Ujung-ujungnya, banyak mengeluh. Mending nabung aja buat beli baju yang disukai.”

Sebenarnya, saya tidak sedang berbicara tentang baju dalam arti yang sebenarnya. Saya sedang berbicara tentang perasaan saya dan tingkah laku saya sendiri.

Sudah 2 tahun ini, saya menyukai orang yang sama. Orang yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Mungkin lagu yang cocok untuk situasi ini adalah lagunya Tulus yang judulnya “Mengagumi dari Jauh”, khususnya liriknya yang ini:

Tingkahmu, gayamu, kemasan raga

Tanpa kau sadari aku salami

Bukan tak percaya diri

Tapi aku tahu diri

Ih, sedih kali ya lagunya? Hahaha… Tapi poinnya adalah, tanpa disadari oleh orang itu (atau mungkin dia sadari, ga tahu deh, ga peduli), saya mengerti. Bukan sengaja atau bertingkah ala stalker yang mengawasi gerak-geriknya. Tidak. Beberapa peristiwa, pertemuan dan perbincangan membuat saya mengerti. Mungkin karena sudah sifat dan keahlian saya memperhatikan gerak-gerik orang kali ya? Saya tahu apa yang ada di kepalanya hanya dengan memperhatikan raut muka atau mendengarkan kalimat yang didengarnya. Saya tahu kapan ia sedang sibuk, dan kapan dia sedang sok sibuk. Saya mengerti apakah dia sedang memberikan perhatian penuh, capek atau jiwanya di tempat lain. Saya rasa cukup yah deskripsinya. Kalau diteruskan rasanya kok mengerikan. Tapi itulah saya. Suka mengamati, atau lebih tepatnya terbiasa mengamati.

Beberapa kali saya berusaha untuk mengatakan pada diri saya sendiri bahwa, bukan dia yang seharusnya saya sukai. Banyak cara saya lakukan. Memutuskan komunikasi untuk waktu yang lama (tidak berhasil) sampai mencoba menyukai orang lain (ujung-ujungnya mengeluh). Jadi kesimpulannya, saya sudah yakin 100% bahwa ia memang orang yang saya sukai. Tidak perlu lagi coba-coba sok suka orang lain, tidak perlu coba-coba sok cool, tidak perlu pura-pura ga suka.

600 detik, waktu yang cukup untuk membuat saya merasa bahagia hanya dengan mendengarkannya berbicara. Apa saja. Bahkan saat ia menceritakan hal yang membuat saya berpikir ‘Apa sih ini?’ it’s okay. Ceileeee…. 

Suatu kali saya memperhatikannya sedang berbicara dengan seseorang dengan penuh semangat. Hanya dengan melihat itu, saya merasa senang loh. Bahkan sempat ada kalimat yang terlintas dalam pikiran ‘Saya suka orang ini’ 

Gila ga? Hahaha…

Saya percaya apa yang diungkapkan k Sandra dalam bukunya “Hawa” yang berjudul Hakekat Berpasangan, bahwa seperti halnya sandal yang diciptakan sepasang dan saling melengkapi, begitu pula manusia. 

Jika ada sepasang manusia yang keberadaannya saling melengkapi, meski terpisah, hilang sebelah, atau terselip di suatu tempat, pada akhirnya ia hanya akan berfungsi baik dan nyaman saat bersama pasangannya. Tapi ada juga yang kadang karena uda malas nyari pasangan sendalnya terselip di mana akhirnya membeli sandal yang baru atau mungkin karena pakainya hanya di rumah, disandingkan dengan sandal yang lain. Bisa sih dipakai, bisa diacuhkan nyaman tidaknya, tapi apakah itu sudah hakikatnya? Mungkin yang pakai juga bisa saja tidak peduli. Yah, semuanya kembali ke pribadi masing-masing.

Sandal oh sandal! Taukah kamu kalau dalam lubuk hati ini, kamu tuh sandal sebelah kanan, saya sebelah kiri. Kalau kata Colbie Calliat:

Take time to realize that I am on yourside

Didn’t I, Didn’t I tell you

….

If you just realize what I just realize

We could be perfect for each other and we’ll never find another

Saya tidak berani mengatakan bahwa dia itu seseorang yang tepat buat saya, karena saya tidak tahu juga. Tetapi, dari apa yang saya perhatikan sepertinya demikian. Dia memiliki semua kualitas yang saya harapkan. Terutama cinta Tuhannya yaa… 

Tapi kan, saya tidak tahu apakah saya orang yang tepat buat dia atau tidak. 

Intinya, nyantai aja, lakukan seperti biasa. Jadi diri sendiri, dan relakaaan…wkwkwk


11 December 2014

Kata Orang

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Kata orang, money can’t buy love.

Well, not directly. Menurut saya, secara tidak langsung, uang sebenarnya dapat ‘membeli’ cinta. Wooo…wooo..sebelum protes, coba baca dulu lanjutannya.
Kamu memang tidak  bisa seperti di pasar, bertransaksi dengan uang dan membeli cinta dengan mudah. It’s not love, it’s lust. Hehehe
Tetapi yang saya maksud dengan uang bisa ‘membeli’ cinta adalah:

ü  Untuk tampil terawat kamu butuh uang buat beli odol, baju bersih, sabun, lotion, bedak, pelembab wajah, shampoo, conditioner, pembersih wajah, pelembab bibir, gel rambut, vitamin rambut, dll. Kalau memang uang tidak dapat ‘membeli’ cinta, I dare you to fall in love with someone yang ga pernah mandi, gosok gigi, sampoan, atau merawat diri bahkan pakai baju robek-robek penuh noda.

ü  Kenalan dengan cowo atau cewe, kamu tertarik, bokis banget kalau kamu tidak berusaha mencari tahu apa yang dia lakukan untuk hidup. Saya tidak menyalahkan kalian atau menuduh kalian matre. Tidak! Saya hanya mau menekankan satu poin bahwa sudah sewajarnya kita mengetahui hal itu. Apakah dia tau tujuan hidupnya? Apakah dia sedang mengusahakan sesuatu yang ia yakini akan menjadi masa depannya? Ataukan dia seorang pemalas yang tidak melakukan apa-apa dan masih bergantung pada orang tua? Tidak sedikit juga saya menemukan fenomena, dimana seseorang jatuh cinta pada orang yang ga ngapa-ngapain, tapi karena ortunya kaya, si pacarnya santai-santai aja.

Ada lagi orang yang mengatakan, “Penampilan luar ga penting, yang penting hatinya.” Setuju sih, dan saya punya pengalaman pahit soal hal satu ini.

ü  Saya pernah ya, punya pacar yang katanya sih, uda 4 tahun suka sama saya (sebelum jadian). Nah ternyata pada suatu waktu, saya harus pergi ke suatu tempat dimana saya tidak bisa berpakaian seperti biasanya. Harus sesederhana mungkin, dan sandal gunung itu uda jadi sandal paling nyaman dan wajib dipakai kemana-mana. Well, doi protes karena saya tiba-tiba jadi tidak menarik di matanya. Dandanan kampung, plus doi marah berat kalo liat saya pakai sandal gunung. Helooooowww… Lu gila apa? Masa tinggal di pesisir pantai saya harus pakai high heels or flat shoes?? Lu mau abaikan pasir pantai begitu aja? Lu mau abaikan bukit terjal begitu aja? Bete banget kan? Masa saya harus tampil mentereng di tengah kampung. Aneh!

Beberapa pengalaman percintaan (ceileeeh padahal 5 jari aja ga nyampe jumlah pacarannya) membuat saya semakin bijak dalam memilih pasangan.
Tidak ada lagi menyukai karena tampan, atau hal-hal remeh lainnya.
Kriteria pasangan saya, dia harus Cinta Tuhan, tau apa yang dia mau, berani mengambil risiko, pantang menyerah, punya jiwa entrepreneur, berjiwa pemimpin dan peduli lingkungan social disekitarnya. 
 

Sketch of my hands Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea