02 March 2014

PEE MAK Movie Review

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Pee Mak
Genre : Horror Comedy



Jika Hollywood punya Twilight, Thailand punya Pee Mak. Apa hubungannya?


Pee Mak merupakan sebuah komedi horor yang menceritakan kisah pilu percintaan yang terhalang oleh ajal. Dikisahkan seorang pria yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk berperang membela negaranya. Ketika sedang berada di medan pertempuran, istrinya meninggal.

Di medan perang, Mark berkenalan dengan 4 orang pemuda yang akhirnya menjadi sahabat-sahabatnya. Karena namanya yang susah dilafalkan, maka mereka memanggilnya dengan sebutan Mak. Bersama para sahabatnya itu, Mark pulang ke kampung halamannya untuk betemu dengan istrinya yang cantik jelita.

Perahu tiba, sampailah mereka di rumah Mark. Ia memperkenalkan istrinya. Tak diragukan lagi, para sahabatnya pun terkesima dengan kecantikan istri Mark. Apakah ada yang salah dari urutan cerita yang saya sampaikan? Bagaimana mungkin wanita yang telah meninggal masih ada di rumah itu? Ternyata, wanita itu adalah hantu yang terus menunggu kepulangan suaminya. Cintanya tidak menginjinkannya untuk pergi dengan tenang, namun terus berada di dunia untuk bertemu lagi dengan suaminya.

Pengalaman menyeramkan sekaligus konyol terus mulai dialami oleh Mark dan sahabat-sahabatnya, hingga mereka sadar bahwa ternyata mereka tinggal bersama hantu. Dalam hal film horror, Thailand tidak perlu diragukan lagi. Tetapi menggabungkannya dengan komedi? Apakah masih bisa terasa efek kengeriannya? Bisa kukatakan, hanya mereka yang ahli dalam hal ini. Film ini meski dibalut dengan unsur komedi namun tetap  membuat bulu kuduk merinding. Di suatu detik kita tertawa terpingkal-pingkal dan detik, berikutnya kita dibuat tekaget-kaget. Tidak hanya itu, bumbu romantika pun membuat film ini semakin lengkap. Mark haris memilih, hidup pada kodratnya, yang hidup dan yang mati tak hiup berdampingan atau sebaliknya.

Seperti biasa, saya tidak akan menceritakan secara detail dalam tulisan ini, karena akan mengurangi greget saat menontonnya nanti. Film ini sangat kurekomendasikan bagi kalian yang ingin mencari film dengan nuansa berbeda. Selamat menonton.

Kritis

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Kritis, kira-kira itulah perasaan saya. Tapi sayangnya, entah ini kelebihan atau kekurangan tapi saat saya merasakan kesulitan menghadapi suatu kondisi, hal itu tidak dapat saya ungkapkan. Selalu bisa bercerita, tetapi tidak semuanya. Hanya permukaan es yang mencuat di samudra. Gunung esnya masih lebih besar di bawah, tidak kelihatan. 


Satu hal yang ingin sekali saya rubah dalam menghadapi masalah adalah kebiasaan mengurung diri dalam 'gua'. Rasanya jadi seperti melawan diri sendiri. Saat orang-orang terkasih pergi Susah sekali buat saya untuk menangisi kepergian mereka, termasuk saat mama saya meninggal. Bukan karena tidak sedih. Saya SANGAT SEDIH. Tetapi entah mengapa air mata tidak mau turun. Mungkin karena ada perasaan ingin melindungi. Air mata tidak memperbaiki keadaan, air mata hanya membuat suasana semakin sulit. Mungkin itulah yang membuat saya jadi susah mengekspresikan kesedihan dengan wajah. Saat sesuatu yang pelik datang, wajah ini otomatis berubah menjadi keras dan kosong.

Saat ini, saya menemukan hal baru yang lebih pelik lagi. Tetapi saya percaya Tuhan akan memampukan. Hanya saja, sudah dua minggu ini saya jauh dari Tuhan. Entah mengapa. Tidak ada gereja yang cocok dengan kebutuhan saya, tidak ada kakak rohani, rasanya kering sekali. Semakin diperburuk dengan saya yang mulai malas merenungkan firmanNya plus keadaan di rumah yang cukup rumit. Rumitnya seperti apa tentu tidak bisa saya ceritakan. Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing. 
 

Sketch of my hands Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea