17 January 2014

Journey to Kalamba Waterfall

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post
Kalamba, ini bukan pertama kalinya saya pergi ke desa tersebut. Tetapi ini pertama kalinya saya pergi dengan tujuan untuk jalan-jalan dan melihat air terjunnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu bahwa di Desa Kalamba terdapat sebuah air terjun yang eksotis.



Sebelum tiba di desa Kalamba, saya bersiap-siap di rumah. Menunggu teman-teman yang rencananya akan bersama-sama menuju ke sana. Datanglah Epin, pacarnya yang bernama Jackleen, dan seorang pemuda asal Solo bernama Supomo. Peserta jalan-jalan berikutnya adalah adik saya Yos dan teman-temannya. Total ada 9 orang yang berjalan menuju Kalamba menggunakan motor.

Perjalanan kami sebenarnya jauh, sekitar dua jam perjalanan. Tetapi tidak begitu terasa karena sepanjang perjalanan, saya dan teman yang membonceng mengobrol ini itu. Kami juga sempat berhenti di Pasar Mondu, untuk menikmati kelapa muda. Diantara bau kotoran kambing dan ditonton oleh para penjual serta seekor sapi yang sedang nongkrong di situ, kami menikmati kelapa muda tersebut.

Perjalanan kami lanjutkan. Setelah melewati sebuah jembatan besi, kami pun berbelok ke arah kiri. Jalan yang kami lalui berbatu karang, belum diaspal, berlubang-lubang. Sering kali motor berbelok sendiri karena batu-batu lepas di jalan sangat banyak. Namun, pemandangan di kanan kiri kami sangat indah. Hamparan padang sabana nan hijau berbingkai gunung-gunung hijau membuat kami tenang. Sempat kuberpikir, bahwa tempat ini cocok untuk syuting “Lord of The Rings”.

Beberapa kali kami serombongan berhenti untuk mengambil foto. Kami ingin mengabadikan pemandangan ini. Mumpung lagi hijau. Karena memasuki bulan-bulan kemarau nanti, pemandangannya lain lagi. Semua akan terlihat kuning keemasan.

Kami pun sampai di Desa Kalamba, desa di tengah kuali. Begitulah sebutannya, karena letak desa itu tepat di tengah-tengah gunung-gunung sehingga seperti berada ditengah kuali.
Kami memarkir sepeda motor, melepas celana panjang dan hanya mengenakan celana pendek. Lalu kami mulai berjalan menyusuri sungai menuju air terjun.

Pikirku, dengan berjalan kami akan melihat air terjun di depan mata, ternyata kami berada di atas air terjun tersebut. Kami harus menuruni batu yang curam dan berlumut di samping air terjun kembar tersebut untuk turun ke bawah. Kakiku gemetar, takut terpeleset dan jatuh lalu diterima oleh bebatuan besar di bawah sana. Badanku sekarang tak seringan dulu, dan alam sudah lama tak kujamah. Lama merantau di tanah Jawa membuat fisik dan mentalku selembek tahu.

Beberapa saat mengambil napas, lalu perlahan-lahan dengan arahan adikku, kuturunkan kaki, dan berlagak layaknya pemanjat tebing ulung yang sedang menuruni tebing dengan tali pengaman. Padahal tak ada seutas tali pun mengikatku. Berhasil! Sampai di bawah, saya langsung nyebur! Tapi sayangnya kami semua tak dapat berenang ke tengah karena takut terbawa arus ke air terjun berikutnya.

Pemandangan yang bisa dinikmati di lokasi air terjun ini adalah struktur dari air terjun itu sendiri. Berundak-undak, dengan air hijau tosca. Bagian yang palis deras adalah lapisan pertama. Lapisan ke empat lebih tenang namun menghayutkan. Jika tidak hati-hati maka akan terseret juga ke air terjun di bawahnya lagi.

Sambil menikmati makanan ringan dan tingkah adik saya dan teman-temannya dari atas susunan batu, kami melihat salah seorang teman adik saya seperti kebingungan mau menyeberang dari sebelah mana untuk kembali ke tempat kami duduk. Setelah ia cerita barulah kami paham. Ternyata, tanpa kami sadari ia telah terseret air. Kami baru tahu setelah ia menceritakan kepada kami. Untungnya dia tidak apa-apa. Lucunya adalah, dia jadi trauma menyeberang air terjun itu. Kami menunggu dia dan memberi semangat sambil makan biskuit. Saksikan videonya di bawah ini.

Setelah ia berhasil menyeberang, kami pun bersepakat untuk pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih mudah karena jalanannya menurun. Tetapi, malang tak dapat ditolak, saya dan teman saya terjatuh dari sepeda motor dan menyebabkan motor milik sepupu saya tergores di bagian kanannya. HUAAAAAA... mati saya! Sudah boleh minjem, diciderai pula. Segitu dulu ya, nantikan kisa petualangan kami selanjutnya.
 

Sketch of my hands Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea