30 November 2013

Harga Abang dan GTO

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post

Nama besar pusat grosir Tanah Abang sudah sering kudengar. Tetapi baru hari ini saya merasakanya. Merasakan bahagianya berbelanja di sana. Sepanjang koridor, yang ada di benakku hanyalah, RESELLER!!!

Senyum dan tawa bahagia tidak bisa hilang dari wajah saya. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena harga di Tanah Abang yang membuat saya tercengang!

Bayangkan saja, Seprei King Size bisa kubeli hanya dengan harga 50ribu rupiah. Tak mau rugi, kubeli saja 3 sekaligus. Tidak hanya itu, celana panjang bahan pun, yang biasanya kita beli 300ribuan untuk satu potong, aku beli 3 potong dengan harga hanya 190ribu totalnya.

Saat berbelanja di sana, yang ada di benakku hanyalah RESELLER. Aku ingin menjual kembali produk-produk itu di Sumba. Bahannya bagus dan harganya murah meriah.

Saya menjelajahi tempat indah itu bersama teman saya, Helmid. Hari ini saya merasa senang karena bisa menghabiskan waktu dengan teman saya. Sayangnya dia tidak tinggal di Jakarta. Besok, dia sudah akan kembali ke Kupang. Hari terasa lambat dan saya senang dengan hal itu. Tubuh saya capek tapi hati saya tenang.

Dalam perjalanan pulang ke Kelapa gading, teman saya yang lainnya, mengajak nongkrong di La Piazza. Pergilah saya. Kebetulan mereka teman kos saya, sekalian biar ada teman pulang bareng.

Setelah nongkrong, berbagi cerita dengan Bonez dan memandangi muka cemberut Obed di Batak Moody, kami memutuskan pulang. Dan saudara-saudara, malam ini tidak akan pernah saya lupakan. Mengapa? Karena setelah dua tahun, dan di usia saya yang sudah 25 tahun ini, kami pulang dengan mode Gonceng Tiga Orang alias GTO. Obed pada posisi mengendarai motor, saya di tengah dan Bonez di belakang. Sumpah kocak abis. Saya tidak membayangkan kalau ada murid saya yang melihat gurunya sedang GTO seperti anak ABG. Malu sekaligus merasa lucu sekali. Dua teman saya yang gokil itu tidak akan saya lupakan deh. Hahahahaha... Sumpah!!

17 November 2013

Kerja Keras :)

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
1 comments Links to this post
Saat ini, buatku keluarga nomor satu dan mereka ada dalam rancangan masa depanku. Jika ada yang mengatakan keluarga adalah hambatan bagiku, mereka salah. Keluarga adalah motivasi terbesarku.
Mungkin tidak banyak dari kalian yang mengetahui latar belakang keluarga saya. Mungkin juga bukan hal yg penting untuk diketahui oleh kalian. Tapi jika kalian terus membaca artikel ini, izinkan saya membagikan kisahku. Saya lahir di keluarga PNS. Bapa saya seorang PNS di Pertanahan dan Almh. Mama saya adalah seorang guru PNS.
Kami tinggal di rumah yang terus mengalami perombakan. Jika melihat foto lama, pada masa awal, rumah kami hanyalah sebuah ruangan berukuran 3x3, dindingnya dari anyaman bambu (gedhek), berlantaikan tanah.
Seiring dengan berjalannya waktu, rumah kami diperbaharui menjadi rumah berbatu bata merah dengan lantai semen. Beberapa tahun kemudian barulah di plester dengan tembok.
Tidak banyak barang yang kami miliki. Bahkan sofa merupakan barang mewah bagi kami. Tapi kami bahagia. Saluran TV kami hanya TVRI danTPI. Hanya orang kaya yang punya parabola yang dapat menangkap siaran TV swasta. Seringkali saya pulang hingga larut malam karena menonton televisi di rumah orang lain. Beberapa tahun kemudian, Bapa membeli parabola. Saya merasakan kemewahan untuk pertama kalinya.
Kebutuhan semakin banyak. Bapa dan Mama adalah orang yang mengajarkan padaku arti bekerja keras dan jujur. Untuk membantu keuangan keluarga, selain menjadi guru, Mama juga berjualan di sekolah. Kerupuk, keripik, kacang, jagung, Astor, apa saja dijual. Kisah ini yang paling saya ingat:
"Ma, kasih saya Astor kah. Satu saja."
"Itu jualan Vany. Kalau kau ambil satu trus Viny juga pasti minta. Trus kau minta-minta terus. Dapat untung dari mana sudah? Ini juga buat cari kamu punya uang jajan di sekolah. Kalau mau, beli."
Saya harus membeli dari Mama saya, karena itu jualan.
Saya bersyukur telah diajarkan bagaimana membedakan bisnis dan keluarga.
Mama dan Bapa kemudian membeli sebuah kulkas. Saya merasa semakin kaya. Hanya dengan memiliki kulkas, saya merasa status sosial kami naik. Hahaha... Saat itu, kami berjualan es. Mulai dari es batu, sampai berbagai es manis yang dijual di sekolah mama, di rumah kami sendiri, dan oleh orang yang dibayar. Jualan kami laku keras. Permintaan semakin banyak. Kami serumah setiap siang sampai sore sibuk meramu adonan es dan membungkusnya. Seluruh kulkas penuh dengan es. Itu adalah masa-masa paling menyenangkan. Saya sangat menikmati bekerja di rumah membantu mengikat es.
Oh ya, meski demikian, saya tetap tidak boleh ambil es tanpa izin untuk dimakan sendiri. Saya harus menunggu hasil sisa penjualan. Kalau mau ambil sebelum tutup hari, saya harus bayar. Uang jajan saya pada jaman SD hanya Rp. 200, SMP Rp. 500, SMA Rp. 2000. Banyak kisah. Tapi hari ini saya hanya ingin membagikan tentang semangat kerja keras.
Usaha orang tua saya melebar lagi. Bapa membeli sebuah mikrolet bekas, di Sumba sebutannya bemo. Benda itu masih ada sampai sekarang. Meski hanya dipakai untuk kepentingan pribadi. Usaha bemo ini lumayan banyak membantu kehidupan ekonomi kami pada awalnya. Saya belajar mengenal berbagai macam orang pun dari usaha ini. Banyak orang datang dan pergi. Rumah kami selalu ramai. Semua supir dan kenek bahkan teman-teman mereka yang ikut ke rumah makan semeja dengan kami dan memanggil orang tuaku dengan sebutan Bapa dan Mama. Kami punya pembantu di rumah, tetapi kami tidak diperbolehkan memerintah seenaknya dan bersikap tidak hormat. Saat itu sangat bahagia. Saya merindukan mereka semua.
Beberapa waktu kemudian, Bapa membeli sero di Pantai Mondu. Sero adalah alat penangkap ikan yang ditanam di tengah laut. Pada saat air surut, segala macam hewat laut akan terjaring dan diangkut ke daratan. Rumah saya penuh dengan seafood. Kepiting, udang, cumi, kerang, ikan, dll. Saat itu kami makmur. Kami berjualan hasil laut.
Kadang saya iri dengan teman dan saudara saya yang begitu gampang mendapatkan uang dari orangtua mereka pada waktu itu. Sedangkan saya, harus ada alasan kuat untuk mendapatkan uang dari orang tua. Tetapi sekarang saya bersyukur atas didikan mereka.
Poin lain tentang bekerja yang diajarkan orangtua saya adalah mengenai relasi dengan teman. Bekerja tidak hanya mengenai mencari uang tetapi juga berelasi. Saya dulu paling tidak suka menghadiri pesta ulang tahun teman atau acara apa pun itu. Saya lebih suka di rumah, main dengan teman-teman di sekitar rumah atau baca buku.
Saat itu saya Masih SMP. Mama saya sampai 'menyogok' saya dengan baju-baju baru demi saya pergi ke acara-acara pesta tersebut. Mulailah saya menghadiri pesta ultah teman dengan motivasi untuk mendapatkan baju baru. Tetapi sekarang saya bersyukur atas semua itu, karena saya jadi mengenal banyak teman dan meski sudah jarang bertemu tetapi masih memiliki relasi yang baik dengan mereka.
Kehidupan terus berjalan, roda berputar, manusia tidak selalu berada pada kemakmuran. 5 Januari 2006, Mama meninggal. Kepergiannya tidak hanya membuat rumah terasa berbeda tetapi secara perekonomian juga berubah. Bapa, melewati masa sulit. Saya rasa kami semua begitu. Tapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Ia selalu mencukupi kebutuhan kami. Saya dan Viny mendapatkan beasiswa. Saya 100% sampai lulus. Viny mendapat dua semester, dan saya selalu mendapatkan pekerjaan yang dapat membantu membayar uang kuliah adik saya. Kini saya juga sedang giat menabung untuk biaya kuliah adik saya yang bungsu, JC. Saya belum punya tabungan untuk diri saya sendiri, tetapi tidak masalah. Begitu saya berpindah pada pekerjaan berikutnya, saya akan mulai berinvestasi untuk tabungan masa depan saya. Life is beautiful. I am thank God for all the things i've been going through. Thanks God.

02 November 2013

Bintang meredup

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post

Sial!

Ya. Minggu ini bintangku sepertinya meredup. Beberapa hal menyebalkan terjadi dalam minggu ini.

Pertama, teman saya datang dari Surabaya. Ia menginap di Jakarta Selatan. Untuk memenuhi permintaannya, saya, yang tinggal di Kelapa Gading, Jakarta Utara menyanggupi untuk bertemu dan menginap. Padahal saya bekerja dan masuk tiap jam 7 pagi. Pikirku saat itu, tak apalah, cuma sekali ini. Teman lebih penting.

Berdasarkan rencana kami akan bertemu di Shelter Setiabudi, berganti ke Setiabudi Building, ganti lagi ke Senayan City. Hari kerja, jalanan macet, saya penumpang setia busway dan angkutan umum lainnya. Jalan macet, saya menempuh perjalanan dari jam 5 sore dan tiba pukul 7.30 malam di Shelter dukuh atas dua. Saat berjalan kaki menuhu shelter dukuh atas 1, sepatu sandal kesayangan saya putus. Tidak ada cadangan. Jadi bayangkan saja saya nyeker sambil pegang sandal dari dukuh atas 1 sampai shelter Bundaran Senayan. Belum selesai. Menuju Senayan City, saya masih harus berjalan sekitar 200 meter, nyeker, diliatin orang banyak. Sampai di STC, saya berhenti. Saya tidak mungkin masuk mal dengan keadaan seperti itu, SENDIRIAN.

Saya pun mengontak teman saya tersebut untuk menjemput saya di STC. Paling tidak saya tak malu masuk sendirian. Sampai di dalam baru saya beli sandal baru.

"Aku lagi potong rambut sama Sela, kamu coba hubungi Agung aja."

Agung dihubungi tak bisa. Sms lagi ke teman tadi.

"Agungnya ga bisa Van. Ya udahlah, cuek aja. Kita di lantai 4."

Kecewa. Mereka tidak memikirkan betapa malunya saya sepanjang jalan tad. Oke saya tahu rambutnya lagi dipotong, paling tidak mereka bisa bilang, "Sorry Van, tunggu ya. Selesai dipotong, kami turun."

Ini apa, tidak ada balasan. Balasan terakhir adalah meminta saya naik sendiri. Saya tidak memikirkan lagi 3 jam yang saya lewatkan di jalan dan malunya nyeker sepanjang jalan dan di busway. Saya menyetop taxy dan menuju ke Setiabudi, kos temanku Melati. Sampai di kosannya, saya cuma bisa nangis. Kenapa? Karena saya merasa dikecewakan. Saya bekerja di sebuah sekolah internasional yang jadwal kerjanya padat. Ketika saya menyanggupi untuk keluar di hari kerja, artinya saya menyisihkan waktu saya untuk mereka. Saya sudah menyisihkan pekerjaan, jadwal mengisi formulir beasiswa dengan bapa untuk adik saya, tapi yang saya dapat seperti itu. Yah, kita tidak bisa berharap orang akan berpikir sama dengan kita. Saya tahu. Untuk itu, saya memilih pulang kosan dan istirahat.

Hal berikutnya, hari ini, Sabtu yang seharusnya libur diadakan kelas tambahan. Hanya saya yang tidak dapat makan siang. Mereka tidak mencantumkan nama saya. This is not about the thing or goods, this is about being forgotten. Sedih, pengen nangis.

Yah, itulah curcolan saya hari ini.

 

Sketch of my hands Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea