27 August 2013

Bukan Hilang, Tapi Pergi

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post

Telah layar terkembang
Kuingin menyeberang
Melintas pulau dan lautan

            Dini hari, Manado, ia menghembuskan napas terakhirnya. Penderitaan itu hilang selamanya. Ungke, Meiva, bagaimana kalian kelak, percayakan pada garisan hidup dari sang pencipta. Dalam dua tahun, hanya dua tahun. Semua berubah, mereka pergi. Pak Ferdi, disusul sang istri, Ibu Manoka setahun kemudian. Sehidup semati. Dua orang ini tak terpisahkan. Entah harus menitikkan air mata atau apa, yang bisa kulakukan sekarang hanya mengenang.
            Mereka, orangtua keduaku. Setahun merawatku selama jauh dari duniaku. Orangtuaku di Enggohe. Doaku, semoga mereka tenang dan bahagia di sana. Tak terpikir sebelumnya bahwa kesempatan untuk bertemu lagi benar-benar akan hilang secepat ini.
            Ungke, Meiva, Eti, jika bisa kubertelepati, ingin kumenangis bersama kalian. Berbagi tangis, merangkai kekuatan. Lepaskan, relakan, doakan. Mereka telah bersama di sana.

Obsesi Malesi :p

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
2 comments Links to this post


Masa kanak-kanak kami adalah masa bersahabat dengan terik matahari, desau angin, semak belukar, lumpur, sungai, dan hujan. Kami tak kenal krim tabir surya, kami biarkan matahari meninggalkan bekas di tubuh kami. Kami tak kenal rasa lelah, karena bagi kami alam selalu menarik dan memberi energi baru setiap saat.
            Pada masa itu, obsesi seorang Vany kecil hanyalah makan mie goreng setiap hari, bermain dan dikepang rambut oleh orang rumah. Berbeda dengan saat ini. Satu keinginan saya yang belum terwujud adalah belajar di luar negeri. Bukan tren atau apa, hanya saja ini memang keinginanku. Merasakan suasana baru dan pengalaman baru di negeri orang. Belajar banyak hal baru. Setiap kali melihat foto teman-teman terdekat yang sudah mendahului belajar ke luar, hati saya bagai tersayat. Pedih rasanya. Saya takut jadi gila karena ini. Gemas sekali. Apa yang kurang dari saya, sampai hal ini belum terwujud juga.

17 August 2013

Fiction Story of my students : My Father was a monster

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
0 comments Links to this post

The magician is the step-father of the girl, and he is the founder of diamonds. The girl is beautiful and sensitive, but she is imprisoned in the castle. 

The magician always maimed her, because she knew his secret that the magician he will become a monster in the night. It happened in a night, the girl always find something that interesting in the castle. The haze will get in the castle in the night,and it will has cause some strange noise around it. 

It was terror, but the girl walked in boldly, and she looked some light in the room. She saw it,it was her step-father received a monster into the body, and he became a terror horrible thing. The pelt was black and sharp, and his body was naked. He revelled in the change. 

He looked at the girl's place, she ran away, but he is faster, he caught her, and told her that she can't told anyone. The girl knew her step-father become a monster,the heart wasn't kind, she thought,she have to found someone to help him. 

Later the days Later on, she always looked the step-father at night, she knew finally, when he became monster,  just gave a good music, he will sleep for a long time. In the night, she had would put the music player to her step-father's room. After he slept, she took found  the key to open the castle door, she ran quickly, and she found reach the papal. 

She knew the papal had the kind and beautiful heart, and he has the member so do the followers that their heart was kind, too. She told the Papal the event, and the girl want her step-father receive the blessing, and the papal brought his member followers to followed the girl,and they spoke something around the sleeping step-father. Later on, he changed and he opened his eyes, he looked at the girl, and give the girl her a big hug

.

09 August 2013

Kontemplasi (1)

Posted by Vany Kadiwanu
Reactions: 
2 comments Links to this post
Kamis, 8 Agustus 2013
Di dalam kamar lega di Wisma Pandawa
Agriani Stevany Kadiwanu

Kata orang hidup ini indah. Ya, memang hidup ini indah. Penuh dengan lika-liku, tawa, tangis, cemas, marah, dan lain sebagainya. Seperti kata bijak yang sering kita dengar, bahwa kita tidak akan tahu apa itu bahagia jika kita tak pernah menangis. Kita tak akan tahu apa itu indah, jika tak tahu apa itu buruk. Ada satu kata bijak dari salah satu pengarang favorit saya, Paulo Coelho:
I am proud with the scars in my soul.
They remind me that i have an intense life.
Jangan pernah berpikir bahwa segala penderitaan yang kita rasakan tak akan ada henti atau akhirnya. Bersabarlah, tunggulah waktunya ketika kita dengan senyum dan dada membusung mengatakan dua baris kalimat dari Paulo Coelho di atas. Dunia ini berputar, segala hal pasti akan berubah. Dunia tidak datar, hidup tidak statis. Berbaurlah dengan dunia dan nikmati alirannya. Jangan habiskan waktumu dengan jangkar. Karena jangkar tidak membawamu kemana pun.

Hari ini pertama kalinya saya merasakan indahnya suara dan pemandangan hujan di Jakarta. Jendela. Ya, jendela, salah satu bagian rumah yang memiliki arti sangat penting. Hal ini baru saya sadari setelah berpindah dari kos lama ke kos yang baru. Melalui jendela, cahaya matahari masuk ke ruangan, terjadi pertukaran udara, terlihat pemandangan sekitar yang menandakan kita tak hidup sendiri. Hanya dengan memiliki jendela di kamar kos saya, saya merasa kembali menjadi manusia. Hati dan pikiran menjadi bebas. Bibir selalu tersenyum. Jendela, benda kecil yang memberikan perbedaan dalam hidup saya.

Sembari menikmati indahnya hujan, sebuah pesan instan masuk ke telepon selular saya. Pesan datang dari adik saya. Ia menanyakan apakah saya memiliki fotonya bersama almarhumah mama. Mungkin ia pun ingin memposting fotonya bersama alm. Mama semasa ia kecil ke media sosial, seperti yang kulakukan kemarin. Kenangan. Benda tak kasat mata yang memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Benda yang mampu membuat kita tersenyum, atau pun tersedot dalam ruang waktu. Benda yang ingin kita miliki selamanya. Benda yang tak ternilai. Bersama kenangan, saya bisa menghabiskan banyak waktu. Hanya berusaha mengingat-ngingat masa saya berbagi sebuah mangga bersama teman dekat saya di kebun, lari pagi beramai-ramai ke dermaga lama, dikejar anjing ketika menuju dermaga, bersepeda ke dermaga, main di halaman gereja, bermain di depan rumah, ritual malam tahun baru, dan masih banyak lagi kenangan manis lainnya. Semuanya membuat saya bersyukur memiliki hidup ini. Bersyukur atas segala hal yang terjadi dan semua orang yang ada di dalam hidup saya. 
 

Sketch of my hands Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea